Industri tekstil di South Carolina kini membidik angin segar setelah Senator Republik, Lindsey Graham, resmi mengajukan rancangan undang-undang baru bernama Coast Guard Personnel Equipment Act. Langkah legislatif ini dirancang khusus untuk mewajibkan seluruh seragam personel Pasukan Penjaga Pantai Amerika Serikat (US Coast Guard) diproduksi sepenuhnya di dalam negeri. Selama ini, institusi tersebut menjadi satu-satunya cabang militer yang dikecualikan dari aturan wajib belanja domestik, sebuah celah hukum yang dinilai mengancam keamanan nasional sekaligus memukul mata pencaharian buruh lokal.

Kebijakan tarif agresif yang diluncurkan pemerintahan Trump dengan janji membangkitkan kembali industri dalam negeri ternyata membuahkan hasil yang pahit bagi sektor tekstil Amerika Serikat. Alih-alih memicu renaisans manufaktur lokal, data terbaru dari Kearney Reshoring Index 2026 justru menunjukkan fenomena yang mengejutkan: output manufaktur pakaian jadi di AS anjlok drastis sebesar 17 persen sepanjang tahun 2025.

Memasuki pertengahan tahun 2026, lanskap industri tekstil dunia sedang mengalami guncangan hebat yang menempatkan para petani kapas di Amerika Serikat dalam posisi terjepit. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, Brasil diproyeksikan akan melampaui Amerika Serikat sebagai eksportir kapas utama dunia pada musim pemasaran 2025/26. Fenomena ini bukan sekadar masalah persaingan dagang biasa, melainkan kulminasi dari krisis iklim, melonjaknya biaya produksi, dan pergeseran geopolitik yang membuat Tiongkok—pembeli terbesar dunia—memangkas pembelian kapas AS hingga 85 persen demi beralih ke stok domestik dan impor dari Amerika Selatan.

Sektor tekstil Amerika Serikat saat ini tengah berada di persimpangan jalan yang menentukan antara kepunahan dan kebangkitan. Setelah dihantam badai geopolitik dan ketidakpastian ekonomi yang memaksa 40 pabrik tutup dalam waktu kurang dari dua tahun, industri yang menjadi tulang punggung bagi lebih dari 450.000 pekerja ini mulai menyusun kekuatan baru di Washington. Dengan nilai pengiriman yang menyusut menjadi $60,9 miliar pada tahun lalu, para pelaku industri kini menaruh harapan besar pada sinergi politik di bawah administrasi Trump untuk mengembalikan kejayaan manufaktur domestik.

Lanskap perdagangan tekstil dunia mencatatkan sejarah baru pada tahun 2025. Berdasarkan analisis pasar global terbaru dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA), India telah resmi menggeser posisi Tiongkok sebagai pemasok produk kapas terbesar—termasuk pakaian jadi dan tekstil rumah tangga—ke pasar Amerika Serikat. Pergeseran ini menandai berakhirnya era dominasi Negeri Tirai Bambu yang telah bertahan selama bertahun-tahun, sekaligus mengukuhkan posisi India sebagai penerima manfaat utama dari strategi "China Plus One" yang tengah diadopsi oleh banyak perusahaan global.