Dunia fesyen global tengah berada di titik persimpangan krusial. Di tengah kepungan limbah pakaian yang kian menggunung, konsep daur ulang tekstil-ke-tekstil (textile-to-textile) kini muncul sebagai "Cawan Suci" bagi ekonomi sirkular. Namun, untuk mewujudkan impian baju bekas menjadi baju baru secara massal, teknologi saja ternyata tidak cukup. Industri membutuhkan perombakan sistem besar-besaran dan kolaborasi tanpa sekat antar-merek global.
Dalam ajang Textiles Recycling Expo di Charlotte, North Carolina, para pemimpin industri dari Target, Unifi, hingga Reju berkumpul untuk membedah tantangan ini. Sarah Coulter, Direktur Program Amerika untuk Accelerating Circularity, menegaskan bahwa masalah utama bukan lagi pada ketiadaan teknologi. Saat ini, hanya satu persen dari 90 juta ton tekstil yang dihasilkan setiap tahun yang berhasil didaur ulang. Menurutnya, ini adalah kegagalan sistem, bukan sekadar hambatan teknis.
Tantangan terbesar yang menghantui para raksasa ritel adalah masalah biaya. Janelle Hibbard dari Target mengungkapkan bahwa bahan tekstil hasil daur ulang pasca-konsumen memiliki biaya produksi yang jauh lebih tinggi dibandingkan serat perawan atau limbah botol plastik. "Bagi kami, pembatas terbesarnya adalah biaya dan ketersediaan dalam skala besar. Kami perlu menurunkan biaya agar penggunaan material ini bisa diperluas," jelas Hibbard. Ia menambahkan bahwa mill atau pabrik tekstil juga harus siap menjalankan proses ini dengan efisiensi yang sama seperti material konvensional.
Senada dengan hal tersebut, Diane Woods dari Reju menekankan pentingnya perubahan pola pikir konsumen dan merek. Memproduksi kaos baru dari kaos lama jauh lebih rumit dan mahal dibandingkan menggunakan poliester perawan yang selama ini disubsidi oleh infrastruktur lama. "Anda harus melihatnya secara berbeda dari sisi harga. Hasil daur ulang pakaian bekas tidak akan pernah bisa setara harganya dengan bahan perawan dalam waktu dekat," tegas Woods.
Meskipun biaya menjadi ganjalan, secercah harapan muncul dari inovasi mekanis dan kimia. Jimmy Summers dari Elevate Textiles mengamati adanya kemajuan pesat dalam teknologi penyortiran yang membuat proses menjadi lebih cepat. Di sisi lain, kolaborasi strategis mulai menunjukkan hasil, seperti kemitraan Reju dengan Goodwill dan Waste Management. Dalam skema ini, pakaian yang masih layak akan dijual kembali, sementara pakaian yang sudah tak berbentuk dikirim ke fasilitas daur ulang untuk dijadikan serat baru.
Meredith Boyd dari Unifi, perusahaan di balik serat Repreve yang digunakan Nike dan Levi’s, mengingatkan bahwa transformasi ini memerlukan keberanian untuk menanggung risiko bersama. Masalah kualitas dan keterlambatan pengiriman adalah hal lumrah dalam fase rintisan ini. Namun, industri tidak boleh hanya diam menunggu solusi sempurna datang.
"Tekstil-ke-tekstil sedang berada di ambang momen inovasi," pungkas Boyd. Baginya, masa depan sirkularitas tidak akan tercapai jika para pemegang merek hanya duduk berpangku tangan. Transformasi sesungguhnya dimulai ketika seluruh rantai pasok setuju untuk berbagi risiko, berinvestasi pada teknologi yang ada sekarang, dan mulai memasukkan material hasil daur ulang ke dalam lini produk mereka demi menjaga keberlangsungan bumi.