Kebijakan tarif agresif yang diluncurkan pemerintahan Trump dengan janji membangkitkan kembali industri dalam negeri ternyata membuahkan hasil yang pahit bagi sektor tekstil Amerika Serikat. Alih-alih memicu renaisans manufaktur lokal, data terbaru dari Kearney Reshoring Index 2026 justru menunjukkan fenomena yang mengejutkan: output manufaktur pakaian jadi di AS anjlok drastis sebesar 17 persen sepanjang tahun 2025.

Meskipun tarif tinggi diterapkan untuk menghalau ketergantungan pada produk impor, arus barang dari luar negeri ke pasar AS justru melonjak 4,6 persen menjadi hampir $3 triliun. Sektor pakaian dan aksesori tetap didominasi oleh negara-negara Asia berbiaya rendah, termasuk China, dengan total nilai impor mencapai $88 miliar. Strategi tarif yang diharapkan menjadi "pagar" pelindung bagi produsen domestik justru menciptakan ketidakpastian yang membuat para eksekutif perusahaan enggan mengambil risiko besar untuk memindahkan produksi kembali ke tanah air.

Patrick Van den Bossche, mitra di Kearney sekaligus penulis laporan tersebut, mengungkapkan bahwa industri pakaian memiliki karakteristik unik yang membuatnya sulit untuk melakukan reshoring (pemindahan produksi kembali ke negara asal). Salah satu faktor utamanya adalah rendahnya anggaran riset dan pengembangan (R&D) dibandingkan industri lain. Minimnya inovasi otomatisasi membuat industri ini masih sangat bergantung pada tenaga kerja manual yang mahal di Amerika Serikat.

"Kecepatan inovasi untuk menggantikan proses manual dengan otomatisasi jauh lebih lambat di industri pakaian dibanding sektor lain. Padahal, itulah syarat utama untuk menekan biaya tenaga kerja yang tinggi di AS," ujar Van den Bossche dalam wawancaranya dengan Sourcing Journal. Selain itu, ia menambahkan bahwa margin keuntungan yang tipis secara historis membuat industri ini sulit melakukan transformasi finansial yang dibutuhkan untuk bersaing di level domestik.

Alih-alih pulang ke Amerika, merek-merek besar justru memilih untuk melakukan diversifikasi regional. Sebanyak 75 persen responden survei mengaku menarik diri dari China, namun mereka hanya memindahkan operasionalnya ke negara-negara tetangga di Asia yang tetap menawarkan biaya rendah, bukan ke negara bagian di Amerika. Hanya sekitar 20 persen perusahaan yang bahkan sempat mempertimbangkan manufaktur domestik sebagai opsi nyata.

Kebijakan tarif yang sering berubah-ubah selama tahun 2025 juga dituding sebagai penyebab utama kebingungan pasar. Salah satu CEO yang menjadi responden survei menggambarkan situasi ini dengan metafora yang tajam: "Tim manufaktur kami sudah siap lari ke lapangan, kami hanya butuh tiang gawangnya berhenti bergeser." Ketidakpastian jadwal dan besaran tarif membuat banyak merek menyimpulkan bahwa membayar bea masuk dua digit tetap lebih efektif secara biaya daripada membangun pabrik baru di Amerika yang ekosistem rantai pasoknya telah terkikis selama dekade dominasi Asia.

Kini, industri mode Amerika tengah menanti kejelasan dari penyelidikan Section 301 oleh Perwakilan Perdagangan AS terkait kerja paksa dan kapasitas industri berlebih. Harapannya, hasil penyelidikan ini akan memberikan stabilitas hukum yang permanen. Tanpa kepastian aturan, upaya untuk membawa kembali manufaktur ke Amerika Serikat dikhawatirkan hanya akan menjadi "awan debu" yang membingungkan bagi pelaku usaha, sementara produksi pakaian lokal terus tergerus oleh efisiensi dari seberang lautan.