Memasuki usianya yang ke-20 pada tahun 2026, Hong Kong Research Institute of Textiles and Apparel (HKRITA) semakin mengukuhkan posisinya sebagai pionir ekonomi sirkular global melalui ekspansi teknologi strategis ke daratan Tiongkok. Inovasi mutakhir mereka yang dikenal dengan nama 'Green Machine' baru saja dinobatkan sebagai salah satu dari "20 Kasus ESG Unggulan" dalam Konferensi Pengembangan Keberlanjutan Perusahaan di Shanghai. Pencapaian ini menandai babak baru dalam upaya industri mode global senilai $2,5 triliun untuk mengatasi salah satu masalah tersulit dalam dunia daur ulang: memisahkan campuran poliester dan katun.

Teknologi pemisahan hidrotermal ini mampu mengisolasi poliester dari kapas pada tekstil campuran dengan tingkat pemulihan mencapai 97 persen. Keunggulan 'Green Machine' tidak hanya terletak pada kemampuannya mengolah limbah pasca-konsumen, tetapi juga pada efisiensi energinya yang luar biasa. Berdasarkan uji coba skala industri, mesin ini hanya membutuhkan energi sebesar 19 GJ per ton PET daur ulang—hanya sekitar 30 persen dari energi yang dikonsumsi untuk memproduksi serat perawan. Hal ini menjadi krusial mengingat industri tekstil dunia tengah berada di bawah tekanan besar untuk mencapai target net-zero.

CEO HKRITA, Jake Koh, dalam sesi meja bundar di Shanghai menekankan bahwa keberhasilan ekonomi sirkular tidak bisa hanya mengandalkan perangkat keras semata. Menurutnya, untuk mencapai rantai pasok nol emisi, diperlukan pengurangan karbon secara menyeluruh dari hulu ke hilir. "Kami kini mengadvokasi pemantauan digital dan transparansi jejak karbon untuk memvalidasi sirkularitas bagi merek-merek global," ungkap Koh. Ia menambahkan bahwa integrasi teknologi ini akan sejalan dengan Rencana Lima Tahun ke-15 Nasional Tiongkok yang memprioritaskan peningkatan manufaktur digital dan ramah lingkungan.

Guna mempercepat proses komersialisasi dari laboratorium ke pasar, HKRITA juga telah menandatangani Nota Kerja Sama dengan Universitas Politeknik Qinggong Chengdu. Kemitraan internasional pertama di jenisnya ini bertujuan untuk mengembangkan talenta dan inkubasi perusahaan rintisan melalui program residensi "Open Lab". Kerja sama ini akan memanfaatkan sumber daya industri di Chengdu untuk menstabilkan pasokan bubuk selulosa daur ulang dengan kemurnian tinggi, sekaligus memperluas jejak teknologi HKRITA di pusat manufaktur utama.

Langkah strategis ini membuktikan bahwa penskalaan ekonomi sirkular di sektor tekstil sangat bergantung pada pertukaran informasi regional dan berbagi teknologi, selain inovasi mekanis itu sendiri. Dengan portofolio lebih dari 150 paten, HKRITA tidak hanya merayakan dua dekade perjalanannya, tetapi juga sedang membangun jembatan antara inovasi Hong Kong dan kekuatan manufaktur Tiongkok daratan serta ASEAN. Ke depan, 'Green Machine' diharapkan menjadi standar baru dalam industri tekstil dunia, mengubah limbah yang dulunya tak terkelola menjadi sumber daya berharga yang mendukung keberlanjutan bumi.