Industri fast fashion dunia kini berada di ujung tanduk seiring dengan memanasnya konflik di Timur Tengah yang berujung pada penutupan de facto Selat Hormuz. Jalur perdagangan vital yang tercekik ini memicu lonjakan harga minyak bumi dan gas ke level yang mengkhawatirkan, menciptakan efek domino yang menghantam jantung produksi pakaian dan alas kaki global. Bagi perusahaan raksasa yang menggantungkan napas pada serat sintetis murah, situasi ini menjadi ancaman eksistensial yang sulit dihindari karena ketergantungan industri yang sangat masif terhadap petrokimia.
Polyester, material utama yang menyusun hampir 60 persen produksi serat global, kini harganya melambung tinggi seiring harga minyak mentah Brent yang menembus angka 100 dolar AS per barel. Tekanan ini sudah mulai terasa nyata di lapangan; raksasa tekstil asal Jepang, Teijin Frontier, baru-baru ini melakukan revisi harga darurat dengan menaikkan harga serat dan benang hingga 20 persen. Langkah serupa diambil oleh Eastman dan Coats Bangladesh yang menaikkan harga produk mereka demi menutup "eskalasi biaya ekstrem" pada bahan baku dan logistik. Kondisi ini membuat merek-merek seperti Shein, yang menggunakan polyester hingga 80 persen dalam koleksinya, terjepit dalam situasi yang disebut para ahli sebagai "triple whammy" atau pukulan tiga lapis: kenaikan harga bahan baku, pembengkakan biaya energi, dan kekacauan logistik.
Rachel Kitchin, senior corporate climate campaigner dari Stand.earth, menilai bahwa model bisnis fast fashion yang mengandalkan margin keuntungan tipis dan siklus produksi super cepat tidak akan mampu menyerap guncangan ini. Menurutnya, meskipun perusahaan besar seperti Nike atau Adidas mencoba beralih ke material daur ulang (rPET), mereka tetap tidak akan terlindungi karena proses daur ulang polyester merupakan industri yang sangat rakus energi. Ketika biaya energi melonjak, harga material daur ulang pun ikut menjadi tidak menentu. Di sisi lain, beralih ke serat alami seperti kapas bukanlah solusi instan. Kapas tidak dapat diproduksi dalam volume dan kecepatan yang sama dengan tuntutan fast fashion, apalagi harga kontrak berjangka kapas sendiri telah melonjak mencapai titik tertinggi dalam dua tahun terakhir.
Krisis ini semakin diperparah dengan hambatan logistik akibat perang yang memaksa kapal-kapal pengangkut memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika. Pengalihan rute ini menambah waktu transit hingga 20 hari dan membengkakkan biaya pengiriman hingga 30 persen. Dampaknya bukan hanya pada harga produk di rak toko, tetapi juga pada kesejahteraan buruh pabrik di negara-negara produsen seperti Bangladesh. Nusa Urbancic, CEO Changing Markets Foundation, memperingatkan bahwa selain masalah minyak, gangguan di Selat Hormuz juga menghambat distribusi pupuk urea global. Hal ini mengancam rantai pasok pertanian kapas secara keseluruhan, sekaligus menekan daya beli konsumen yang kini lebih memprioritaskan kebutuhan pokok daripada sekadar mengikuti tren pakaian terbaru.
Pada akhirnya, guncangan besar ini menjadi sinyal keras bagi industri mode untuk melakukan transformasi total. Kitchin menekankan bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil adalah kelemahan fundamental yang tidak bisa lagi dianggap sebagai rintangan jangka pendek. Industri mode masa depan dipaksa untuk meninggalkan siklus produksi kilat dan mulai berinvestasi pada energi terbarukan serta model ekonomi sirkular yang lebih tahan banting. Jika tidak segera berbenah, gejolak di Selat Hormuz mungkin akan diingat sebagai katalisator yang meruntuhkan kejayaan era pakaian murah sekali pakai.