Di saat sektor manufaktur Maroko lainnya mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang menggembirakan pada awal tahun 2026, sebuah kontras tajam justru terjadi pada industri tekstil dan kulit. Berdasarkan laporan survei bulanan terbaru dari Bank Al-Maghrib yang dirilis pada Maret 2026, sektor strategis ini mencatatkan kinerja terlemah di antara seluruh lini manufaktur di negara tersebut. Ketidakpastian global dan penurunan permintaan tampaknya telah memukul titik nadi industri yang selama ini menjadi salah satu pilar ekspor utama bagi Kerajaan Maroko.

Data bank sentral mengungkapkan angka yang cukup memprihatinkan: sebanyak 45 persen perusahaan tekstil melaporkan penurunan produksi yang signifikan selama bulan Maret. Sebaliknya, hanya 12 persen perusahaan yang mampu mencatatkan pertumbuhan, menghasilkan keseimbangan negatif tajam sebesar minus 34. Kondisi ini menempatkan tekstil sebagai sektor dengan rapor merah paling mencolok dibandingkan industri mekanik atau metalurgi yang justru melonjak dengan kapasitas utilitas mencapai 88 persen. Sementara itu, industri tekstil tertatih-tatih dengan tingkat pemanfaatan kapasitas yang hanya menyentuh angka 77 persen.

Lesunya kinerja ini berakar pada permintaan pasar yang tetap rendah, baik di pasar domestik maupun mancanegara. Survei tersebut menunjukkan bahwa 40 persen perusahaan mengalami penurunan penjualan, sementara pesanan baru merosot di hampir seluruh sub-sektor tekstil. "Buku pesanan berada di bawah tingkat normal untuk semua jenis aktivitas," tulis laporan Bank Al-Maghrib. Meskipun segmen kulit dan alas kaki masih menunjukkan sedikit ketahanan dibandingkan segmen kain, secara keseluruhan industri ini sedang berada dalam fase kontraksi yang mengkhawatirkan.

Seorang analis ekonomi lokal dalam sebuah ulasan media domestik menyebutkan bahwa ketergantungan Maroko pada pasar Eropa menjadi pedang bermata dua saat ekonomi Benua Biru tersebut sedang mengalami volatilitas. Dampaknya, para pengusaha tekstil kini berada dalam kegelapan mengenai masa depan bisnis mereka. Sekitar 37 persen produsen tekstil mengaku tidak memiliki visibilitas yang jelas mengenai rencana produksi untuk tiga bulan ke depan, sementara lebih dari separuh produsen—yaitu 54 persen—bahkan tidak berani memberikan estimasi terkait angka penjualan di masa mendatang.

Ketidakpastian yang menyelimuti sektor padat karya ini memicu kekhawatiran akan stabilitas lapangan kerja jika tren kontraksi terus berlanjut sepanjang semester pertama tahun 2026. Di tengah upaya pemerintah Maroko untuk mendorong modernisasi industri, kemerosotan di sektor tekstil dan kulit ini menjadi pengingat keras bahwa tantangan rantai pasok global dan pelemahan daya beli konsumen internasional masih menjadi hambatan nyata yang harus segera dicarikan solusinya demi menjaga momentum kebangkitan manufaktur nasional secara menyeluruh.