Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan bahwa platform TikTok Shop dan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 8 Tahun 2024 tentang Kebijakan Impor telah memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap industri tekstil di Indonesia. Kondisi ini menyebabkan banyak perusahaan tekstil gulung tikar dan terjadinya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawan.

Plt Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Reni Yunita, menyatakan bahwa salah satu permasalahan utama sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) saat ini adalah banjirnya impor produk jadi dengan harga sangat murah. Produk-produk impor ini bersaing langsung dengan produksi dalam negeri, yang mengakibatkan tekanan besar bagi produsen lokal. Selain itu, produk impor yang dijual melalui marketplace dan media sosial seperti TikTok Shop juga memperburuk situasi.

Reni menambahkan, sejak diberlakukannya Permendag Nomor 8 Tahun 2024, volume impor tekstil di Indonesia mengalami lonjakan tajam. Data menunjukkan bahwa impor TPT naik dari 136.360 ton pada April 2024 menjadi 194.870 ton pada Mei 2024. Peningkatan signifikan ini menimbulkan dampak yang sangat merugikan bagi industri tekstil domestik.

Dampak dari kebijakan ini tidak hanya terbatas pada peningkatan volume impor. Enam perusahaan tekstil telah menutup operasionalnya akibat tekanan ekonomi yang dihasilkan oleh kebijakan ini. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah PT S Dupantex di Jawa Tengah, PT Alenatex di Jawa Barat, PT Kusumahadi Santosa di Jawa Tengah, PT Kusumaputra Santosa di Jawa Tengah, PT Pamor Spinning Mils di Jawa Tengah, dan PT Sai Apparel di Jawa Tengah.

Situasi ini menunjukkan perlunya peninjauan kembali terhadap kebijakan impor yang ada serta upaya perlindungan terhadap industri tekstil domestik. Dukungan dan kebijakan yang lebih berpihak pada industri lokal sangat dibutuhkan untuk mencegah keruntuhan lebih lanjut dan memastikan keberlangsungan industri tekstil di Indonesia.