Industri manufaktur Indonesia memasuki periode penuh tantangan sepanjang 2025. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan bahwa variabel produksi dalam Indeks Kepercayaan Industri (IKI) kembali mengalami kontraksi untuk keenam kalinya secara berturut-turut. Pada November 2025, indeks produksi turun 1,08 poin ke level 47,49, meskipun indikator pesanan baru justru meningkat 0,68 poin ke angka 55,93. Kondisi ini memperlihatkan ketidakseimbangan antara permintaan yang mulai pulih dengan produksi yang masih tertahan.

Juru Bicara Kemenperin, Febri Hendri Antoni Arief, menjelaskan bahwa pelaku usaha masih mengambil langkah berhati-hati dalam meningkatkan output. Permintaan yang belum benar-benar normal, tekanan nilai tukar, dan ketidakpastian geopolitik global menjadi faktor yang terus membayangi kegiatan produksi. Meski begitu, peningkatan permintaan dari pasar domestik memberi harapan bahwa pemulihan manufaktur semakin dekat.

Dorongan terhadap produk dalam negeri tercermin pada kenaikan permintaan domestik ke level 52,71. Di sisi lain, permintaan ekspor juga stabil di level ekspansif dengan mencatat nilai 54,18. Pemerintah tetap mewaspadai potensi limpahan produk impor akibat perang tarif global, agar kapasitas dan kinerja industri nasional tidak tergerus.

Optimisme pelaku industri pun menunjukkan arah positif. Ekspektasi usaha dalam enam bulan ke depan mencapai 71 persen, meningkat dari data bulan sebelumnya, sementara tingkat pesimisme turun menjadi hanya 5,2 persen. Dari hasil survei, sebagian besar pelaku industri, sebesar 78 persen, menyatakan kegiatan usaha mereka stabil hingga membaik.

Hampir seluruh subsektor manufaktur juga berada di fase ekspansif, yaitu 22 dari 23 subsektor, yang menyumbang 98,8 persen terhadap PDB Industri Pengolahan Nonmigas pada triwulan III 2025. Salah satu subsektor yang mencatat kinerja kuat yakni industri pengolahan tembakau, terdorong kenaikan produksi rokok pada Oktober 2025 hingga mencapai 27,9 miliar batang atau naik 7,3 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Meski secara kumulatif dari Januari hingga Oktober 2025 produksi rokok sedikit melemah 1,91 persen akibat maraknya produk ilegal, kontribusinya tetap menjadi penopang pertumbuhan.

Industri farmasi juga menunjukkan ekspansi yang solid pada level 57,68 poin, dipacu oleh meningkatnya pesanan dari luar negeri dan penguatan nilai ekspor yang mencapai 81,87 juta dolar AS pada September 2025 atau naik lebih dari 12 persen dibanding bulan sebelumnya.

Pemerintah memastikan bahwa arah kebijakan akan terus fokus pada penguatan pasar dalam negeri melalui P3DN, pemberlakuan SNI, serta kebijakan impor yang lebih selektif, termasuk pemberantasan barang ilegal yang berpotensi merusak struktur industri nasional. Upaya ini sejalan dengan langkah Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pembatasan impor untuk melindungi keberlanjutan manufaktur dalam negeri.

Situasi makroekonomi yang stabil turut menjadi penopang laju industri. Inflasi yang terjaga pada 2,86 persen, kenaikan penjualan eceran sebesar 3,7 persen, peningkatan Indeks Keyakinan Konsumen menjadi 121,2, dan PMI S&P Global yang bertahan pada posisi ekspansif 51,2, semuanya menjadi dorongan tambahan bagi pemulihan.

Dengan permintaan domestik yang terus menguat, Kemenperin optimistis bahwa sektor manufaktur mampu kembali menggeliat. Pemerintah juga membuka peluang investasi yang lebih besar melalui fasilitas fiskal dan nonfiskal, serta penguatan kawasan industri. Meski sejumlah tantangan masih menghantui, terutama di sektor tekstil yang menghadapi ancaman PHK massal akibat tekanan impor, industri pengolahan Indonesia diyakini mampu menjaga momentum perbaikan menuju kondisi yang lebih stabil dan kompetitif.