Dinamika riset material kerap bergerak di dua kutub yang berbeda. Di satu sisi, penelitian berfokus pada kenyamanan dan keamanan manusia dalam skala mikroskopis, sementara di sisi lain berhadapan langsung dengan kerasnya lingkungan industri yang menuntut ketahanan ekstrem. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa kedua spektrum tersebut dapat dijembatani melalui pengembangan inovasi material yang relevan dan berdampak luas.

Melalui Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM), BRIN menghadirkan dua inovasi kontras namun strategis: tekstil antibakteri berbasis bahan organik dan teknologi pelapisan logam untuk pembangkit listrik. Kedua riset ini menjadi respons nyata terhadap perubahan kebutuhan pascapandemi, mulai dari meningkatnya kesadaran terhadap higienitas hingga tuntutan efisiensi dan keandalan sektor energi nasional yang terus meningkat hingga beberapa dekade mendatang.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah tekstil antibakteri berbasis minyak atsiri jeruk nipis. Komoditas lokal yang selama ini identik dengan kebutuhan rumah tangga tersebut diolah menjadi agen antibakteri fungsional melalui pendekatan teknologi material maju. Tantangan utama dalam pengembangan tekstil fungsional, yakni daya tahan zat aktif terhadap pencucian, diatasi dengan teknologi mikrokapsul yang memungkinkan pelepasan senyawa aktif secara bertahap. Dengan mekanisme ini, fungsi antibakteri pada kain dapat bertahan lebih lama sekaligus tetap ramah lingkungan.

Perubahan perilaku masyarakat setelah pandemi Covid-19 membuat inovasi ini semakin relevan. Pakaian tidak lagi dipandang hanya sebagai pelindung fisik, tetapi juga sebagai bagian dari sistem perlindungan kesehatan. Pertumbuhan publikasi global mengenai tekstil antibakteri yang mencapai lebih dari 25 persen per tahun menunjukkan tingginya minat dan kebutuhan pasar. Aplikasi teknologi ini pun meluas, tidak hanya untuk keperluan medis dan olahraga, tetapi juga sektor strategis seperti militer, dengan potensi penggabungan fungsi tambahan seperti tahan air, perlindungan sinar ultraviolet, hingga ketahanan terhadap api.

Di sisi lain, BRIN juga mengembangkan teknologi material untuk menjawab tantangan industri berat, khususnya sektor pembangkit listrik. Pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), komponen boiler menghadapi risiko erosi dan panas ekstrem akibat operasi jangka panjang. Untuk meningkatkan daya tahan komponen tersebut, BRIN mengembangkan teknik pelapisan menggunakan material komposit nikel-kromium dengan metode High Velocity Oxy-Fuel (HVOF).

Teknologi HVOF memungkinkan partikel material dilontarkan dengan kecepatan sangat tinggi hingga mencapai supersonik. Hasilnya adalah lapisan pelindung yang sangat padat, berporositas rendah, dan memiliki daya rekat tinggi pada permukaan logam. Struktur lapisan seperti ini mampu memperpanjang umur pakai komponen boiler, menekan risiko kerusakan, serta mengurangi frekuensi perawatan dan downtime pembangkit.

Bagi industri energi, inovasi tersebut memiliki implikasi ekonomi yang signifikan. Keandalan peralatan yang lebih tinggi berarti efisiensi biaya operasional dan stabilitas pasokan listrik nasional. Di tengah tekanan untuk menjaga efisiensi dan keberlanjutan energi, teknologi pelapisan material menjadi solusi strategis yang dampaknya besar meski tidak selalu terlihat secara langsung.

Melalui berbagai riset tersebut, BRIN menegaskan komitmennya agar inovasi tidak berhenti di laboratorium, melainkan memberi manfaat nyata bagi masyarakat dan industri. Upaya diseminasi dan kolaborasi lintas disiplin terus diperkuat untuk memastikan riset material mampu menjawab tantangan zaman sekaligus mendukung daya saing nasional.