Minat investasi di sektor garmen dan tekstil nasional menunjukkan daya tahan yang kuat di tengah dinamika ekonomi global. Indonesia masih dipandang sebagai basis produksi strategis bagi berbagai merek internasional, didukung oleh infrastruktur industri yang memadai serta pengalaman panjang pelaku usaha dalam negeri.

Data Kementerian Perindustrian mencatat realisasi investasi pada subsektor tekstil dan pakaian jadi hingga kuartal III tahun 2025 mencapai Rp16,11 triliun. Capaian tersebut tumbuh 5,84 persen secara tahunan, mencerminkan kepercayaan investor yang tetap terjaga terhadap industri padat karya ini.

Arus investasi tersebut ditopang oleh kontribusi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) yang difokuskan pada modernisasi mesin serta peningkatan kapasitas produksi berorientasi ekspor. Sejalan dengan tuntutan pasar global, pelaku industri juga mulai mengarahkan investasi pada efisiensi energi dan digitalisasi proses produksi guna memenuhi standar keberlanjutan.

Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI), Anne Patricia, menyatakan bahwa arah investasi kini tidak lagi sebatas ekspansi fisik. Industri mulai menempatkan efisiensi energi dan transformasi digital sebagai prioritas untuk meningkatkan daya saing sekaligus kepatuhan terhadap prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG.

Tren pertumbuhan investasi ini juga terlihat dari lonjakan nilai realisasi dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, investasi di sektor garmen dan tekstil tercatat sebesar Rp29,9 triliun, kemudian meningkat menjadi Rp39,2 triliun pada 2024. Kenaikan tersebut menjadi sinyal positif bagi proses pemulihan industri tekstil nasional yang sempat tertekan oleh berbagai tantangan global.

Ke depan, dukungan pemerintah melalui penyediaan insentif dan kebijakan yang pro-industri diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan investasi. Dengan penguatan struktur industri dari hulu hingga hilir, sektor garmen dan tekstil nasional diharapkan tetap kompetitif serta mampu menjadi motor penciptaan lapangan kerja dan peningkatan ekspor.