Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengumumkan kabar strategis bagi industri tekstil nasional: produk tekstil dan pakaian jadi Indonesia berpeluang masuk ke pasar Amerika Serikat (AS) dengan tarif impor 0 persen. Kebijakan ini dinilai menjadi momentum besar yang tak hanya menguntungkan industri, tetapi juga berdampak langsung pada jutaan masyarakat Indonesia.

Dalam konferensi pers yang dipantau secara daring pada Jumat (20/2/2026), Airlangga menyebutkan bahwa kebijakan tersebut akan memberikan manfaat langsung bagi sekitar 4 juta pekerja di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT). Jika dihitung bersama anggota keluarga mereka, dampaknya dapat menjangkau hingga 20 juta masyarakat Indonesia.

Pasar tekstil dan pakaian jadi AS disebut memiliki potensi yang sangat besar. Airlangga menekankan bahwa ukuran pasar AS mencapai 28 kali lipat dibandingkan pasar domestik Indonesia. Dengan skala sebesar itu, akses preferensial berupa tarif nol persen menjadi peluang emas bagi industri nasional untuk memperluas penetrasi ekspor dan meningkatkan daya saing global.

Ketentuan ini tertuang dalam Pasal 6.3 Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang mengatur komitmen AS untuk menyediakan mekanisme tarif timbal balik sebesar 0 persen bagi produk tekstil dan pakaian jadi tertentu dari Indonesia. Melalui skema tersebut, volume tertentu dari impor tekstil Indonesia dapat masuk ke pasar AS dengan tarif lebih rendah atau bahkan nol persen.

Namun, terdapat mekanisme timbal balik yang harus dipenuhi. Volume ekspor tekstil Indonesia yang memperoleh fasilitas tarif tersebut akan disesuaikan dengan jumlah ekspor tekstil dan bahan baku asal AS yang digunakan sebagai input produksi di Indonesia. Bahan baku itu antara lain kapas produksi AS serta serat buatan asal AS yang dipakai dalam proses manufaktur tekstil dalam negeri.

Sebagai konsekuensi dari perjanjian tersebut, Indonesia diwajibkan mengimpor sedikitnya 163 ribu metrik ton (MT) kapas asal AS dalam kurun waktu lima tahun. Setelah periode tersebut berakhir, Indonesia harus memastikan volume impor kapas dari AS tetap berada di atas 150 ribu MT per tahun. Skema ini dirancang untuk menciptakan keseimbangan perdagangan sekaligus memperkuat integrasi rantai pasok kedua negara.

Pemerintah pun memandang terbukanya akses pasar AS sebagai pemicu ekspansi industri. Airlangga mengungkapkan target ambisius untuk meningkatkan ekspor tekstil dan pakaian jadi dari saat ini sekitar 4 miliar dollar AS menjadi 40 miliar dollar AS dalam waktu 10 tahun ke depan. Lonjakan hingga 10 kali lipat tersebut diharapkan dapat mendorong investasi baru, memperluas kapasitas produksi, serta menciptakan lapangan kerja tambahan.

Dalam rangka mendukung implementasi kerja sama ini, sejumlah nota kesepahaman (MoU) telah ditandatangani. Dua MoU berkaitan dengan komoditas kapas dan satu MoU menyangkut pakaian daur ulang.

MoU pertama mengenai komoditas kapas ditandatangani antara Busana Apparel Group dan National Cotton Council of America. Kesepakatan ini memperkuat komitmen pasokan kapas AS sebagai bahan baku industri tekstil Indonesia.

MoU kedua juga terkait kapas, yakni antara Daehan Global dan National Cotton Council of America, yang menegaskan keberlanjutan kerja sama pasokan bahan baku untuk kebutuhan produksi tekstil.

Sementara itu, kerja sama di bidang keberlanjutan diwujudkan melalui MoU pakaian daur ulang antara PT Pan Brothers Tbk dan Ravel. Kesepakatan ini menandai langkah industri tekstil Indonesia menuju praktik yang lebih ramah lingkungan, sejalan dengan tren global yang semakin menekankan aspek sustainability.

Dengan kombinasi akses pasar yang lebih luas, jaminan pasokan bahan baku, serta komitmen terhadap keberlanjutan, industri tekstil nasional berada di titik krusial untuk melakukan transformasi besar. Jika dimanfaatkan secara optimal, fasilitas tarif nol persen di pasar AS bukan hanya meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain utama dalam rantai pasok tekstil global.