Presiden Prabowo Subianto menerima audiensi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) untuk membahas arah dan prospek dunia usaha nasional ke depan. Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog antara pemerintah dan pelaku usaha dalam memperkuat sektor industri sekaligus mendorong penciptaan lapangan kerja yang lebih luas.

Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo mengajak para pengusaha berperan aktif membuka peluang kerja di berbagai sektor strategis, mulai dari industri tekstil, garmen, dan alas kaki, hingga mebel serta makanan dan minuman. Sektor-sektor tersebut dinilai memiliki daya serap tenaga kerja yang besar dan berperan penting dalam penguatan struktur industri nasional.

Melalui akun Instagram resmi @presidenrepublikindonesia, Prabowo juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan dunia usaha dalam mendukung visi pembangunan nasional. Para pengusaha yang hadir menyatakan dukungan penuh terhadap agenda Presiden, khususnya dalam upaya pengentasan kemiskinan, penyediaan gizi dan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak Indonesia, serta penguatan industrialisasi yang memberikan manfaat luas bagi bangsa dan negara.

Di sisi lain, Apindo menyoroti sejumlah tantangan yang masih membayangi iklim usaha dan investasi di Indonesia. Ketua Umum Apindo, Shinta Widjaja Kamdani, menyebut terdapat tiga persoalan utama yang menjadi perhatian dunia usaha menjelang 2026. Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5–5,4 persen, pembenahan di berbagai sektor dinilai mendesak agar daya saing Indonesia tidak tertinggal dari negara-negara tetangga.

Shinta menekankan bahwa persoalan pertama berkaitan dengan regulasi dan kebijakan yang dinilai masih belum sepenuhnya mendukung kemudahan berusaha. Ia menilai Indonesia masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara lain dalam hal iklim investasi, sehingga diperlukan perbaikan kebijakan yang lebih konsisten dan pro-bisnis.

Persoalan kedua adalah tingginya biaya berusaha. Beban biaya logistik, tenaga kerja, hingga suku bunga masih menjadi tantangan serius bagi pelaku usaha. Kondisi tersebut berpengaruh langsung terhadap efisiensi dan daya saing industri nasional.

Adapun persoalan ketiga menyangkut kualitas sumber daya manusia dan produktivitas tenaga kerja. Menurut Shinta, peningkatan produktivitas menjadi isu krusial yang saat ini tengah dibahas bersama Kementerian Ketenagakerjaan. Upaya penguatan kompetensi tenaga kerja dinilai penting agar industri Indonesia mampu bersaing di tengah dinamika ekonomi global.