Kondisi pasar tekstil Cipadu di Tangerang, Banten, yang semakin sepi pembeli berdampak langsung pada keberlangsungan usaha para pedagang. Penurunan omzet yang signifikan membuat banyak pelaku usaha kecil di kawasan tersebut terpaksa mengurangi jumlah pekerja karena penghasilan dari penjualan tidak lagi mampu menutup biaya operasional, terutama gaji karyawan.
Sebagian besar pedagang mengaku pendapatan yang diperoleh saat ini hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga. Situasi ini memaksa mereka mengambil langkah berat dengan memberhentikan karyawan agar usaha tetap berjalan, meski dalam kondisi yang serba terbatas.
Helmy, salah satu pedagang kain di Cipadu, mengungkapkan bahwa sebelumnya ia mempekerjakan tiga orang untuk membantu operasional tokonya. Namun, seiring penurunan penjualan, kini ia harus menjalankan usaha tersebut seorang diri.
“Karena sudah tidak kuat membayar pekerja, akhirnya tinggal saya sendiri. Dulu ada tiga orang yang bekerja di sini,” ujar Helmy saat ditemui.
Meski sudah tidak memiliki karyawan, beban biaya tetap harus ditanggung. Ia masih diwajibkan membayar sewa kios setiap bulan, meski penjualan kerap tidak sebanding dengan pengeluaran.
“Penghasilan sedang seret, tapi sewa kios tetap jalan. Sebulan sekitar Rp50.000. Jadi bingung juga, jualan tapi barang tidak laku,” katanya.
Kondisi serupa dialami Muhamad, pedagang bed cover dan seprai di kawasan yang sama. Ia mengaku telah mengurangi jumlah pekerja secara drastis dan kini hanya berjualan bersama sang istri. Padahal sebelumnya, tokonya mampu mempekerjakan hingga enam orang.
“Sekarang tinggal saya dan istri. Dulu bisa mempekerjakan enam orang. Kalau mau nambah, paling dari keluarga saja,” tutur Muhamad.
Menurutnya, mempekerjakan pekerja di luar keluarga sudah tidak memungkinkan karena keterbatasan pendapatan. Fokus utama saat ini adalah bertahan hidup dan menjaga usaha tetap berjalan meski dengan skala yang jauh lebih kecil.
“Untuk menghidupi keluarga saja kadang susah, bagaimana mau pekerjakan orang lain. Tapi kalau tidak berjualan, kami mau makan apa,” ujarnya.
Lesunya aktivitas jual beli di pasar Cipadu menjadi gambaran nyata tekanan yang dihadapi pedagang tekstil skala kecil. Tanpa adanya perbaikan kondisi pasar dan daya beli masyarakat, pengurangan tenaga kerja diperkirakan masih akan terus terjadi di sentra tekstil legendaris tersebut.