Manajemen PT Asia Pacific Fiber (APF) Kaliwungu, Kabupaten Kendal, mengajukan restrukturisasi kepada pemerintah sebagai langkah strategis untuk mengatasi tekanan finansial yang tengah dihadapi perusahaan. Upaya tersebut ditempuh demi menjaga keberlangsungan operasional sekaligus menyelamatkan sekitar 850 pekerja yang menggantungkan hidupnya pada industri tekstil tersebut.

Vice President HRGA, Legal, dan Corporate Communication PT APF, Mettoni, menyatakan bahwa restrukturisasi menjadi solusi penting agar roda produksi tetap berjalan. Menurutnya, sebagian besar karyawan telah mengabdi selama kurang lebih 30 tahun dan memiliki tanggungan keluarga. Ia menegaskan, penghentian operasional perusahaan akan berdampak besar secara sosial dan ekonomi, tidak hanya bagi pekerja tetapi juga masyarakat sekitar.

Kekhawatiran semakin meningkat ketika pada Rabu, 21 Januari 2026, sebuah kendaraan dinas mendatangi area pabrik. Penumpang kendaraan tersebut diketahui berasal dari Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang Jakarta III yang berada di bawah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara, Kementerian Keuangan Republik Indonesia. Petugas menunjukkan surat tugas dan melakukan survei atau pengecekan lokasi di sejumlah area produksi, termasuk unit TX4, Doubling, serta gudang material.

Manager HR Unit Kaliwungu, Asyraf Darwis, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut memicu keresahan di kalangan karyawan dan warga sekitar. Ia khawatir apabila terjadi gangguan terhadap operasional perusahaan, dampaknya akan meluas pada hilangnya mata pencaharian serta berhentinya berbagai program sosial yang selama ini dijalankan perusahaan.

Pihak manajemen pun berharap pemerintah dapat turun tangan membantu realisasi restrukturisasi yang diajukan. Bahkan, perusahaan menyatakan keterbukaannya apabila pemerintah ingin menanamkan saham sebagai bagian dari solusi penyelamatan. Bagi manajemen, yang terpenting saat ini adalah memastikan perusahaan tetap beroperasi dan ke depan mampu kembali memperluas penyerapan tenaga kerja.

Sejak berdiri pada 2011, PT APF Kaliwungu dikenal aktif menyalurkan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di wilayah sekitar pabrik. Beragam kegiatan rutin digelar setiap tahun, mulai dari khitanan massal dan pengobatan gratis, pembagian sembako dan hewan kurban, hingga renovasi musala, pondok pesantren, serta rumah warga kurang mampu. Program-program tersebut membuat keberadaan perusahaan dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.

Kepala Desa Sumberejo, Ngatman, turut membenarkan kontribusi perusahaan bagi lingkungan sekitar. Ia menyampaikan harapan agar pemerintah dapat memberikan dukungan pendanaan sehingga perusahaan tetap beroperasi dan terus memberi manfaat bagi warga. Restrukturisasi yang diajukan kini menjadi harapan utama bagi ratusan pekerja dan masyarakat sekitar agar aktivitas industri tekstil di Kaliwungu tetap bertahan di tengah tekanan ekonomi yang melanda sektor tersebut.