Rencana pemerintah membentuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) khusus sektor tekstil terus menunjukkan perkembangan. Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga menjabat sebagai CEO Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan Roeslani, menyatakan pihaknya terbuka untuk mendukung rencana tersebut melalui skema investasi yang terukur.

Rosan menjelaskan, setiap keputusan investasi yang dilakukan Danantara selalu melalui proses asesmen mendalam lintas sektor dengan sejumlah kriteria dan parameter yang harus dipenuhi. Salah satu aspek penting yang menjadi perhatian adalah kontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja. Menurutnya, sektor tekstil memiliki keunggulan dari sisi penyerapan tenaga kerja yang cukup besar.

Ia menambahkan, Danantara tidak menutup kemungkinan untuk masuk ke sektor dengan tingkat imbal hasil yang lebih rendah dari standar yang ditetapkan, selama sektor tersebut memiliki dampak sosial dan ekonomi yang signifikan, terutama dalam membuka lapangan pekerjaan. Dukungan investasi juga dapat diberikan apabila terdapat keyakinan bahwa perusahaan yang dibantu mampu melakukan perbaikan kinerja atau turnaround setelah menjalani restrukturisasi secara optimal.

Pendekatan tersebut, lanjut Rosan, sebelumnya juga telah diterapkan pada sejumlah BUMN lain yang membutuhkan dukungan komprehensif, mulai dari penguatan permodalan hingga perluasan akses pasar. Saat ini, Danantara masih mengkaji berbagai opsi pengembangan di sektor tekstil, termasuk kemungkinan pembentukan BUMN baru atau alternatif bentuk badan usaha lainnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa rencana pembentukan BUMN Tekstil merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto. Kebijakan ini didorong oleh hasil mitigasi pemerintah terhadap sektor-sektor usaha yang dinilai memiliki risiko tinggi terdampak kebijakan tarif dari Amerika Serikat.

Airlangga menyebutkan bahwa sektor tekstil dan produk tekstil, garmen, alas kaki, serta elektronik termasuk kelompok industri dengan tingkat risiko tertinggi. Oleh karena itu, pemerintah menyiapkan strategi defensif untuk menjaga keberlangsungan dan daya saing industri-industri tersebut. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menghidupkan kembali industri tekstil nasional melalui dukungan pendanaan yang disiapkan Danantara dengan nilai mencapai 6 miliar dolar AS.

Selain sektor tekstil, Presiden Prabowo juga memberikan instruksi untuk membangun industri semikonduktor nasional. Pemerintah telah menyiapkan pendanaan untuk pengembangan sektor ini sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem industri elektronik dalam negeri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.