Perubahan tren fesyen turut memengaruhi perkembangan pasar tekstil di Pekalongan. Salah satu jenis kain yang semakin banyak diminati pelaku usaha adalah semiwool. Kain tersebut tidak hanya digunakan untuk kebutuhan busana laki-laki, tetapi mulai berkembang untuk pakaian perempuan dengan karakter bahan yang menyesuaikan kebutuhan konsumen.
Ali Zainal Abidin, pelaku usaha tekstil dari Samuhita, mengatakan perkembangan pasar semiwool di Pekalongan mulai terlihat dalam sekitar dua tahun terakhir. Menurutnya, jumlah pemain yang memproduksi dan memperdagangkan kain tersebut kini semakin bertambah dibandingkan sebelumnya.
“Pemain semiwool sekarang sudah semakin banyak. Pasarnya juga semakin besar,” ujarnya saat ditemui dalam kegiatan Pekalongan Textile UMKM Fest 2026.
Bertambahnya pelaku usaha turut membuat persaingan di pasar semiwool semakin dinamis, terutama dari sisi harga dan kualitas. Ali menyebut sejumlah pemain yang sebelumnya memproduksi jenis tekstil lain mulai mengalihkan sebagian produksinya ke semiwool karena melihat peluang pasar yang masih terbuka.
Menurut Ali, salah satu karakter semiwool yang membuatnya memiliki pasar tersendiri adalah kemampuannya mengikuti perkembangan kebutuhan fesyen melalui pilihan warna dan karakter bahan. Kondisi tersebut membuat semiwool memiliki pola permintaan yang berbeda dibandingkan kain bermotif.
“Kalau rayon lebih banyak bermain motif. Ketika motifnya sudah tidak sesuai tren, harus berganti. Kalau semiwool lebih banyak mengikuti warna dan kebutuhan fashion,” jelasnya.
Penggunaan semiwool juga berkembang mengikuti karakter konsumen. Untuk busana laki-laki, konsumen umumnya mencari bahan dengan tekstur yang lebih tegas. Sementara itu, kebutuhan pakaian perempuan cenderung mengarah pada bahan yang lebih halus dan memiliki efek jatuh saat digunakan.
Dari sisi perdagangan, Ali mengatakan permintaan semiwool masih menunjukkan pergerakan positif. Penjualan di tempatnya saat ini dapat mencapai sekitar 500 roll per minggu, dengan wilayah pemasaran yang mencakup sejumlah daerah di Kabupaten Pekalongan hingga Pemalang.
Tingginya permintaan bahkan sempat membuat pasokan semiwool mengalami kekurangan menjelang Lebaran. Ali menyebut terdapat sekitar 1.500 roll permintaan yang belum dapat dipenuhi ketika kebutuhan pasar meningkat. Kondisi tersebut terjadi di tengah bertambahnya jumlah pemain dan kenaikan harga benang sebagai salah satu bahan baku produksi.
“Setelah Lebaran saya cukup kaget karena pemainnya semakin banyak. Sebelum Lebaran juga sempat kekurangan suplai,” katanya.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa semiwool mulai menjadi salah satu produk yang diperhitungkan dalam perdagangan tekstil Pekalongan. Bertambahnya pemain, meningkatnya permintaan, serta perluasan penggunaan untuk busana laki-laki dan perempuan membuat persaingan pasar kain tersebut semakin berkembang.