Para eksportir pakaian jadi di India kini tengah berpacu dengan waktu untuk mempercepat pengiriman barang ke pasar Amerika Serikat. Langkah tergesa-gesa ini diambil setelah Dewan Perwakilan Rakyat AS meluluskan rancangan undang-undang yang memberi wewenang kepada Presiden Donald Trump untuk mengenakan tarif hingga 100 persen bagi negara-negara mitra perdagangan energi Moskow, yang berpotensi menyasar New Delhi.
Saat ini, produk pakaian jadi asal India yang mengisi berbagai rak peritel besar di AS dikenakan tarif masuk sebesar 10 persen. Ancaman kenaikan tarif secara mendadak tersebut memicu kepanikan di sektor-sektor padat karya India, meskipun kinerja ekspor barang secara keseluruhan sempat mencatatkan pemulihan yang cukup tajam pada bulan Agustus.
Untuk mengantisipasi ketidakpastian tersebut, para pengusaha garmen berupaya menyelesaikan pesanan musim semi 2027 lebih awal dan memajukan jadwal pengiriman. Padahal, koleksi musim semi biasanya baru dikirim pada rentang Januari hingga Februari. Namun, karena pesanan sudah diterima dan proses produksi telah berjalan, sebagian pengiriman kini dapat dipercepat sembari para eksportir menahan tekanan pemotongan harga dari para pembeli di AS.
Upaya percepatan ini menjadi kian krusial mengingat kinerja ekspor pakaian jadi India mengalami penurunan sebesar 9,10 persen pada lima bulan pertama tahun fiskal ini, dengan nilai mencapai 6.149,66 juta dolar AS jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Padahal, total ekspor barang India pada periode April hingga Agustus menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 17,85 persen mencapai 215,91 miliar dolar AS.
CEO PDS Ltd, Sanjay Jain, mengonfirmasi adanya lonjakan pengiriman untuk koleksi musim semi karena merek-merek dan importir asal Amerika berusaha meminimalkan risiko dari potensi kenaikan tarif. Para pelaku industri kini memanfaatkan pengalaman masa lalu saat menghadapi kejutan tarif, di mana barang yang dikirim lebih awal berhasil lolos dari tambahan bea masuk sebelum aturan baru diberlakukan secara resmi.
Kendati demikian, para pelaku industri tekstil India menekankan bahwa usulan tarif tinggi ini juga harus dilihat dalam konteks negosiasi perdagangan yang masih berlangsung antara India dan Amerika Serikat. Di tengah dinamika diplomasi tersebut, menjaga kelancaran rantai pasok tetap menjadi prioritas utama para eksportir.