PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) terus melihat peluang penyaluran kredit ke sektor tekstil, produk tekstil (TPT), dan garmen. Langkah tersebut dilakukan seiring dengan masih terbukanya potensi pertumbuhan industri pakaian jadi yang menunjukkan kinerja positif pada kuartal II 2026.
Subsektor industri pakaian jadi mencatatkan pertumbuhan fundamental sebesar 6,36% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal II 2026. Pertumbuhan tersebut berada di atas pertumbuhan industri manufaktur maupun ekonomi nasional.
Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo, mengatakan perseroan mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat industri manufaktur yang memiliki karakter padat karya. Menurutnya, sektor TPT dan garmen masih memiliki peluang untuk dikembangkan melalui dukungan pembiayaan perbankan.
Hingga pertengahan 2026, pembiayaan BNI kepada sektor TPT dan garmen tercatat mencapai Rp405,6 miliar pada segmen usaha kecil dan menengah (SME) per Juni 2026. Sementara itu, pembiayaan pada segmen Commercial mencapai Rp995 miliar per 31 Agustus 2026.
Meski melihat adanya peluang pertumbuhan, BNI tetap menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan pembiayaan kepada pelaku industri TPT dan garmen. Sejumlah risiko menjadi perhatian, antara lain ketergantungan industri terhadap bahan baku impor, perubahan nilai tukar, serta persaingan di pasar.
Dalam menyalurkan kredit, BNI secara selektif mempertimbangkan debitur yang memiliki fundamental arus kas sehat dan basis ekspor yang kuat. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas pembiayaan sekaligus memastikan dukungan perbankan dapat diberikan kepada pelaku industri yang memiliki kemampuan menjalankan usahanya secara berkelanjutan.
Selain pembiayaan reguler, BNI juga memanfaatkan skema Kredit Industri Padat Karya (KIPK) untuk mendukung kebutuhan pembiayaan industri yang memiliki kontribusi terhadap penyerapan tenaga kerja. Dukungan tersebut sejalan dengan upaya memperkuat sektor manufaktur sekaligus mendorong penciptaan lapangan kerja nasional.
Dengan tetap mempertimbangkan kondisi dan risiko masing-masing debitur, BNI melihat sektor TPT dan garmen sebagai salah satu bidang yang masih memiliki ruang untuk memperoleh dukungan pembiayaan. Pendekatan selektif tersebut menjadi bagian dari upaya bank menjaga kualitas kredit sekaligus mendukung perkembangan industri padat karya di Indonesia.