Tiga perusahaan teknologi iklim, CRecTech, Blueyou, dan MacroCycle Technologies, meraih total dana katalitik sebesar Rp15 miliar melalui Climate Impact Innovations Challenge (CIIC) 2026. Pendanaan tersebut akan digunakan untuk menguji dan mengembangkan solusi teknologi iklim melalui proyek percontohan di Indonesia.

Masing-masing perusahaan memperoleh pendanaan sebesar Rp5 miliar. Ketiganya menawarkan solusi untuk persoalan lingkungan yang berbeda, mulai dari pengolahan limbah industri kelapa sawit menjadi bio-metanol, restorasi mangrove yang terintegrasi dengan produksi pangan, hingga pengolahan limbah tekstil berbahan poliester menjadi bahan tekstil kembali.

CIIC 2026 diselenggarakan oleh East Ventures, Temasek Foundation, dan Tencent. Memasuki tahun keempat penyelenggaraannya, kompetisi tersebut menerima lebih dari 850 pendaftar dari sekitar 60 negara. Dari jumlah tersebut, sembilan finalis terpilih untuk mengikuti Grand Finale yang digelar pada 6 Oktober 2026.

Grand Finale CIIC 2026 menjadi bagian dari Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026. Tahun ini, kompetisi dibagi ke dalam tiga kategori, yakni Transisi Energi, Solusi Alam & Pangan, serta Ekonomi Sirkular.

Partner East Ventures Avina Sugiarto mengatakan CIIC bertujuan mempertemukan inovasi teknologi iklim dengan penerapan nyata di lapangan. Menurutnya, perkembangan kompetisi tersebut menunjukkan semakin banyak inovator dan mitra yang berupaya mendorong solusi iklim agar dapat memberikan dampak langsung.

“Kami senang melihat CIIC berkembang menjadi platform yang mempertemukan berbagai gagasan berani, para inovator yang berdedikasi, serta para mitra yang memiliki ambisi bersama untuk mengubah inovasi iklim menjadi dampak nyata,” kata Avina.

Pada kategori Transisi Energi, CRecTech keluar sebagai pemenang melalui teknologi pengolahan biogas yang berasal dari limbah cair pabrik kelapa sawit menjadi bio-metanol. Perusahaan tersebut mengklaim teknologinya mampu menghasilkan bio-metanol dengan biaya 50% lebih rendah sekaligus mengurangi emisi hingga 93%. Klaim tersebut tercantum dalam materi CIIC dan belum disertai rincian metodologi pengujian dalam bahan yang tersedia.

Co-Founder dan CEO CRecTech Lim Kang Hui mengatakan dana dari CIIC akan dimanfaatkan untuk mempercepat proses uji coba sekaligus penerapan komersial teknologi tersebut di Indonesia. CRecTech akan menjalankan proyek bersama mitra lokal, termasuk Pertamina.

“Dengan dukungan pendanaan katalitik dari CIIC, kami akan mempercepat tahap uji coba dan penerapan komersial di Indonesia bersama mitra lokal, termasuk Pertamina,” kata Lim.

Selain dana Rp5 miliar dari CIIC, CRecTech memperoleh hibah sebesar US$50.000 atau sekitar Rp893,75 juta dari Sinar Mas Agribusiness & Food serta investasi dengan nilai yang sama dari Vinerock Capital.

Sementara itu, Blueyou menjadi pemenang kategori Solusi Alam & Pangan melalui pendekatan restorasi mangrove pada lahan terdegradasi yang dikombinasikan dengan produksi pangan biru tanpa menggunakan pakan maupun bahan kimia. Perusahaan tersebut mengklaim pendekatannya dapat meningkatkan pendapatan petani kecil hingga tiga kali lipat.

Blueyou juga memperoleh investasi sebesar US$50.000 atau sekitar Rp893,75 juta dari Mana Impact untuk mendukung pengembangan solusinya.

Di kategori Ekonomi Sirkular, MacroCycle Technologies memenangkan kompetisi melalui teknologi yang mengolah limbah tekstil berbahan poliester menjadi material tekstil kembali. Teknologi tersebut diarahkan untuk mendukung penerapan ekonomi sirkular sekaligus mengurangi limbah dari industri tekstil.

Dalam materi CIIC, MacroCycle mengklaim teknologinya membutuhkan energi 80% lebih rendah, menghasilkan emisi karbon dioksida 80% lebih rendah, serta menggunakan air 99% lebih sedikit dibandingkan proses konvensional. Perusahaan juga menyebut harga produksinya dapat setara dengan produk konvensional.

Co-Founder dan CEO MacroCycle Technologies Stwart Pena Feliz mengatakan kemenangan tersebut membuka peluang bagi perusahaan untuk menjalankan proyek pertamanya di Asia, khususnya Indonesia yang memiliki persoalan besar terkait limbah tekstil.

“Penghargaan ini memungkinkan kami untuk secara resmi meluncurkan proyek pertama kami yang berbasis di Asia dan mulai menangani secara langsung besarnya volume limbah tekstil yang terdapat di kawasan ini, khususnya di Indonesia,” kata Feliz.

MacroCycle selanjutnya akan mempercepat proyek bersama mitra lokal untuk menguji kelayakan penerapan teknologi ekonomi sirkular dalam industri tekstil Indonesia. Kehadiran teknologi tersebut diharapkan dapat membuka peluang baru dalam pengelolaan limbah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku baru.

Selain dana katalitik sebesar Rp15 miliar bagi tiga pemenang, CIIC 2026 juga menghasilkan sejumlah komitmen pendanaan lainnya. Tencent memberikan komitmen pra-pembelian kredit karbon senilai US$1 juta atau sekitar Rp17,87 miliar kepada Yagasu.

Head of Climate and Liveability Temasek Foundation Heng Li Lang mengatakan CIIC berupaya menemukan berbagai solusi dari negara lain yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi lokal.

“Dengan mengidentifikasi solusi unggulan dari berbagai negara yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan diterapkan di tingkat lokal, CIIC akan mendukung para inovator di bidang iklim untuk memvalidasi, mengembangkan skala, dan pada akhirnya menjawab sejumlah tantangan iklim terbesar yang dihadapi umat manusia,” katanya.

Vice President for Sustainable Social Value Tencent Xu Hao menilai proyek percontohan menjadi tahap penting untuk membuktikan kemampuan sebuah inovasi sebelum diterapkan dalam skala yang lebih luas.

“Dengan membantu para inovator menguji solusi mereka melalui pilot di Indonesia, CIIC menjadi jembatan penting antara ide-ide yang menjanjikan dan dampak nyata di lapangan,” ujar Xu Hao.

CIIC pertama kali digelar pada 2023. Pada penyelenggaraan 2026, kompetisi tersebut kembali diarahkan untuk membawa teknologi iklim dari tahap pengembangan menuju penerapan dan pengujian langsung di Indonesia. Salah satu fokusnya adalah ekonomi sirkular melalui teknologi daur ulang tekstil, yang berpotensi mendukung upaya industri dalam mengurangi limbah sekaligus meningkatkan pemanfaatan kembali material.