Solo Batik Fashion 2026 akan berlangsung selama dua hari di Graha Wisata Niaga, Taman Sriwedari, Solo. Puluhan perancang busana dijadwalkan menampilkan karya yang mengangkat kekayaan budaya lokal, khususnya batik, melalui beragam desain yang memadukan nilai tradisi dengan sentuhan mode kontemporer.
Tema Nusantara dipilih untuk menegaskan bahwa batik bukan hanya milik masyarakat Jawa, melainkan bagian dari kekayaan budaya yang tersebar di berbagai penjuru Indonesia. Melalui ajang ini, Solo Batik Fashion diharapkan menjadi ruang kolaborasi kreatif sekaligus mendorong pertumbuhan industri batik nasional, terutama di Kota Solo dan sekitarnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Solo, Maretha Dinar Cahyono, mengatakan Solo Batik Fashion tidak sekadar menjadi panggung peragaan busana. Event tersebut juga memiliki peran penting dalam mengedukasi masyarakat mengenai sejarah dan filosofi batik, terutama bagi generasi muda.
"Ajang Solo Batik Fashion bukan sekadar sebagai panggung peragaan busana, melainkan sebagai sarana mengedukasi dan mengenalkan kembali sejarah serta filosofi batik kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda," ujar Maretha, Rabu (21/10/2026).
Menurut Maretha, Solo memiliki sejarah panjang dalam perkembangan batik dan dikenal sebagai tempat lahirnya berbagai maestro yang menghasilkan motif-motif tradisional. Melalui Solo Batik Fashion, warisan tersebut diharapkan dapat terus dikenal oleh generasi muda dengan pendekatan yang lebih dinamis dan sesuai dengan perkembangan zaman.
Perwakilan Solo Fashion Week sekaligus perancang busana asal Solo, Djongko Raharjo, menilai perjalanan Solo Batik Fashion telah memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan industri mode. Sejak pertama kali digagas oleh Joko Widodo ketika masih menjabat sebagai Wali Kota Solo, ajang ini turut memperkuat identitas kota sebagai salah satu pusat batik di Indonesia.
Djongko menegaskan bahwa Solo Batik Fashion tidak hanya berperan dalam memperkuat citra Solo sebagai kota batik, tetapi juga mendorong perkembangan dunia mode agar terus berinovasi tanpa meninggalkan akar budaya.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga keaslian batik yang ditampilkan dalam peragaan busana. Menurutnya, kain batik tulis dan batik cap harus dibedakan dari kain tekstil bermotif batik yang diproduksi melalui teknik cetak atau sablon.
"Dari awal keterlibatan saya di Solo Batik Fashion, saya sudah ngomong, saya tidak mau kalau mereka mengeluarkan batik print. Itu bukan batik Solo, itu hanya motif atau tekstil motif batik," tegas Djongko.
Ia berharap panggung utama Solo Batik Fashion tetap menjadi ruang untuk menampilkan batik autentik yang dibuat melalui proses tradisional, baik dengan teknik tulis maupun cap. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga nilai budaya, identitas, dan kualitas batik di tengah perkembangan industri fesyen modern.
Selain menghadirkan karya desainer profesional dan pelaku industri batik, Solo Batik Fashion juga memberikan ruang bagi dunia pendidikan. Karya busana dari pelajar dan siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) turut menjadi bagian dari upaya memperluas edukasi sekaligus mendorong kreativitas generasi muda dalam mengolah batik.
Djongko mengapresiasi keterlibatan siswa SLB yang dinilainya mampu menghasilkan karya busana batik dengan kreativitas yang mengesankan. Partisipasi tersebut menunjukkan bahwa batik dapat menjadi media ekspresi seni yang terbuka bagi berbagai kalangan.
Pada penyelenggaraan tahun ini, sejumlah desainer, komunitas, institusi pendidikan, dan pelaku usaha batik akan menampilkan koleksi mereka. Di antaranya APPMI Jawa Tengah, Djongko Rahardjo, Tuty Adib, Uzy Fauziah, Hanif Aisyah Nanjaya, Joko Widiarto, Andi Setyoritono, Batik Riana Kesuma, Hadinata Batik, Batik Iskandartex, Svarna by Irma DJ Hariyanto, Batik Arkanza, Nazwa AD ACC, Primasana by SMKN Pacitan, Desain Mode UNS, SMKN 4 Solo, serta DIKSUS SLB.
Koleksi lainnya akan hadir dari Batik Danar Hadi, Robby Dion, Afif Syakur, Batik Putra Bengawan, Yunus J Waluya, Navyu Atelier, Essy Masita, Maya Yurizawa, Silvera by Rhiana Putri, Purana by Nomita Respati, House of Hasto, Aji Nugroho, dan Andrean NR.
Melalui beragam koleksi tersebut, Solo Batik Fashion 2026 diharapkan dapat mempertemukan tradisi, kreativitas, pendidikan, dan industri dalam satu panggung. Tidak hanya memperkenalkan inovasi busana berbahan batik, ajang ini juga menjadi upaya memperkuat pelestarian warisan budaya sekaligus memperluas pengenalan batik Nusantara kepada masyarakat.