Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) terus memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) di sektor ekonomi kreatif melalui pengembangan kompetensi dan sertifikasi profesi di berbagai daerah. Kali ini, Yogyakarta menjadi salah satu pusat pengembangan talenta fesyen melalui Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) dan Sertifikasi Kompetensi Subsektor Fesyen dengan skema Asisten Junior Designer.

Kegiatan yang berlangsung pada 31 Oktober hingga 2 November 2026 tersebut diselenggarakan melalui Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Ekonomi Kreatif (Pusbang SDM Ekraf) di Science Theater Perpustakaan Taman Pintar, Yogyakarta. Sebanyak 30 peserta mengikuti program yang menjadi bagian dari flagship Aktivasi Creative Hub Tahun 2026.

Yogyakarta merupakan lokasi ketujuh dari total 21 titik pelaksanaan program serupa yang tersebar di seluruh Indonesia. Melalui kegiatan ini, pemerintah berupaya memperluas akses peningkatan keterampilan sekaligus menyiapkan tenaga profesional yang mampu memenuhi kebutuhan industri fesyen.

Kepala Pusat Pengembangan SDM Kementerian Ekraf/Badan Ekraf, R. Adi Mukhtar Rivai, mengatakan bahwa Aktivasi Creative Hub tidak berorientasi pada pembangunan ruang kreatif baru, melainkan mengoptimalkan ruang-ruang yang telah tersedia agar dapat menjadi pusat pertumbuhan ekosistem ekonomi kreatif.

Menurutnya, pengembangan talenta melalui pelatihan berbasis kompetensi dan sertifikasi menjadi salah satu langkah penting untuk menghidupkan fungsi Creative Hub. Dengan begitu, keberadaan ruang kreatif tidak hanya menjadi fasilitas pendukung, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kapasitas pelaku ekonomi kreatif.

“Aktivasi Creative Hub bukanlah membangun ruang kreatif baru, melainkan menghidupkan kembali ruang-ruang kreatif yang sudah ada agar ekosistem ekonomi kreatif dapat tumbuh dan berkembang. Salah satu bentuk aktivasi tersebut adalah pengembangan talenta melalui pelatihan berbasis kompetensi dan sertifikasi,” ujar Adi.

Selama pelatihan, peserta mendapatkan pembekalan intensif untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan teknis, serta sikap profesional sesuai kebutuhan pekerjaan di industri fesyen. Program tersebut kemudian dilanjutkan dengan uji kompetensi untuk mengukur kemampuan peserta berdasarkan standar yang telah ditetapkan.

Peserta yang dinyatakan kompeten akan memperoleh sertifikat resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Sementara itu, seluruh peserta tetap mendapatkan sertifikat keikutsertaan sebagai bukti telah mengikuti rangkaian pelatihan.

Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata DIY, Iwan Pramana, menilai Yogyakarta memiliki potensi besar untuk berkembang sebagai salah satu pusat industri fesyen nasional.

Potensi tersebut didukung kekayaan budaya dan tradisi tekstil, termasuk kain lurik, keberadaan lembaga pendidikan, serta jaringan komunitas kreatif yang berkembang di wilayah tersebut. Namun, potensi itu perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas SDM agar mampu menjawab kebutuhan industri yang semakin kompetitif.

Iwan menilai penguasaan keterampilan teknis, profesionalisme, dan pemahaman terhadap pasar menjadi faktor penting bagi talenta lokal untuk mengembangkan karier di industri fesyen.

“Potensi tersebut perlu didukung talenta yang memiliki kompetensi teknis, profesionalisme, dan pemahaman pasar. Pelatihan dan sertifikasi ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas SDM sekaligus memperluas peluang karir di industri fesyen,” ungkap Iwan.

Ia berharap program pengembangan kompetensi tersebut dapat berlanjut setelah pelatihan selesai. Pendampingan intensif, penguatan portofolio, hingga pengembangan usaha dinilai perlu dilakukan agar peserta dapat memanfaatkan keterampilan yang diperoleh untuk memasuki dunia kerja maupun membangun bisnis fesyen secara mandiri.

Kolaborasi berbagai pihak melalui pendekatan pentahelix juga dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan program. Keterlibatan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, dan media diharapkan mampu memperkuat ekosistem fesyen di Yogyakarta.

Dalam pelaksanaannya, pelatihan menghadirkan dua narasumber berpengalaman, yakni Dede Ananta dari ISBI Bandung dan Sanet Sabintang dari Indonesian Fashion Chamber (IFC). Keduanya memberikan pembelajaran yang dirancang untuk mengasah keterampilan dasar perancangan fesyen sesuai standar kompetensi Skema Okupasi Asisten Junior Designer.

Rangkaian kegiatan terdiri dari dua hari pembekalan materi dan satu hari pelaksanaan uji asesmen. Melalui proses tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memahami dasar-dasar desain fesyen, tetapi juga memiliki kemampuan yang terukur dan diakui berdasarkan standar kompetensi profesi.

Kemenekraf optimistis program Aktivasi Creative Hub dapat menjadi salah satu instrumen untuk mempercepat lahirnya talenta-talenta kreatif berkualitas di daerah. Dengan dukungan pelatihan, sertifikasi, dan kolaborasi lintas sektor, Yogyakarta diharapkan mampu menghasilkan SDM fesyen yang profesional, kompetitif, serta siap berkontribusi terhadap perkembangan industri kreatif dan pertumbuhan ekonomi nasional.