Pemerintah Meksiko secara resmi memulai tahun 2026 dengan kebijakan perdagangan yang agresif guna melindungi ekosistem manufaktur domestiknya. Terhitung mulai 1 Januari 2026, otoritas Meksiko menetapkan kenaikan tarif impor sementara yang sangat signifikan, berkisar antara 35 persen hingga 50 persen, untuk produk pakaian dan tekstil yang berasal dari negara-negara tanpa Perjanjian Perdagangan Bebas (Non-FTA). Langkah strategis ini secara spesifik membidik arus masuk barang dari raksasa tekstil Asia, terutama Tiongkok dan India, yang selama ini mendominasi pasar Meksiko dengan harga yang sangat kompetitif.
Kebijakan ini diambil menyusul desakan kuat dari Kamar Industri Tekstil Nasional Meksiko (CANAINTEX) yang melaporkan adanya ancaman serius terhadap keberlangsungan lapangan kerja lokal akibat banjir produk impor murah. Presiden CANAINTEX menyatakan bahwa lonjakan impor dari negara-negara non-mitra dagang telah menciptakan ketidakseimbangan pasar yang merugikan produsen kecil dan menengah di Meksiko. Dengan adanya tarif baru ini, pemerintah berharap dapat memberikan ruang napas bagi industri lokal untuk meningkatkan daya saing serta mendorong konsumen untuk beralih ke produk buatan dalam negeri.
Selain alasan perlindungan domestik, langkah Meksiko ini dipandang sebagai upaya penyelarasan kebijakan dengan para mitra Amerika Utara di bawah kerangka USMCA (United States-Mexico-Canada Agreement). Amerika Serikat dan Kanada sebelumnya telah menyatakan kekhawatiran mengenai celah perdagangan yang memungkinkan produk-produk luar wilayah masuk ke pasar Amerika Utara melalui Meksiko. Dengan memperketat perbatasan melalui instrumen pajak impor, Meksiko memperkuat posisinya sebagai benteng industri di kawasan tersebut sekaligus menjauhkan diri dari ketergantungan pada rantai pasok Asia yang tidak teregulasi dalam perjanjian FTA mereka.
"Ini bukan sekadar masalah perlindungan harga, melainkan upaya kedaulatan industri," ujar seorang pejabat senior kementerian ekonomi Meksiko dalam pengumuman resminya. Ia menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional didorong oleh produksi lokal yang berkelanjutan, bukan oleh konsumsi barang impor bersubsidi. Meskipun kebijakan ini diprediksi akan memicu kenaikan harga pakaian di tingkat ritel dalam jangka pendek, pemerintah optimis bahwa dampak jangka panjangnya akan memperkuat fundamental ekonomi nasional. Para analis perdagangan internasional kini memantau dengan cermat reaksi dari Tiongkok dan India, yang kemungkinan besar akan membawa sengketa tarif ini ke tingkat organisasi perdagangan dunia, namun bagi para buruh pabrik di Meksiko, kebijakan ini dianggap sebagai kemenangan besar di awal tahun.