Menjelang penutupan tahun 2025, industri kapas global berada dalam fase refleksi yang mendalam, mempertemukan nasib para petani di hulu dengan para peritel di hilir. Laporan terbaru menunjukkan tren harga kapas yang stabil namun berada di level rendah, menciptakan situasi paradoks: tantangan berat bagi para petani, namun menjadi peluang emas bagi merek pakaian untuk mengamankan margin keuntungan yang sempat tergerus sepanjang tahun.

Jon Devine, ekonom senior di Cotton Incorporated, menyebut stabilitas harga bahan baku ini sebagai "titik terang di tengah samudra ketidakpastian." Menurutnya, meskipun harga rendah menguntungkan peritel, para petani justru terjepit oleh kenaikan biaya input—seperti pupuk dan bahan bakar—yang melonjak hingga 30 persen sejak 2019 akibat inflasi. "Kombinasi harga jual yang lemah dan biaya operasional yang tinggi mengakibatkan imbal hasil negatif bagi banyak produsen kapas," ungkap Devine dalam wawancara dengan Lifestyle Monitor™.

Kondisi pasar global semakin rumit dengan adanya pergeseran pasokan. Tiongkok, yang biasanya menjadi importir terbesar, secara drastis mengurangi volume impornya menjadi hanya sekitar 5 juta bal pada periode 2024/25. Di saat yang sama, Brasil muncul sebagai kekuatan baru dengan produksi yang melonjak tiga kali lipat dalam 15 tahun terakhir, menambah tekanan pada kompetisi harga internasional.

Di tengah tekanan ekonomi ini, pertanian regeneratif muncul sebagai solusi jangka panjang yang krusial. Ewan Lamont, kepala solusi berkelanjutan di Indigo Ag, menekankan bahwa profitabilitas petani kini tidak hanya ditentukan oleh harga berjangka (futures price), tetapi juga kualitas serat yang sering kali terganggu oleh cuaca ekstrem. "Praktik pertanian regeneratif, seperti penggunaan tanaman penutup tanah (cover crops), menciptakan penyangga vital terhadap kekeringan dan banjir," jelas Lamont. Ia menambahkan bahwa meskipun membutuhkan investasi awal, sistem ini mampu menjaga kualitas serat dan menjadi strategi manajemen risiko yang alami.

Dukungan terhadap kapas alami juga datang dari sisi konsumen. Survei Lifestyle Monitor™ 2025 mengungkapkan bahwa 74 persen pembeli lebih menyukai kapas atau denim dibandingkan serat sintetis, dan 59 persen bersedia membayar lebih untuk serat alami. Hal ini memberikan alasan kuat bagi merek-merek ternama untuk berinvestasi pada rantai pasok kapas yang berkelanjutan.

Namun, bayang-bayang kebijakan perdagangan tetap menjadi tantangan besar untuk tahun 2026. Ketidakpastian tarif, terutama terkait ketegangan perdagangan AS-Tiongkok, dikhawatirkan dapat memicu penurunan permintaan pakaian global. Seperti yang ditegaskan oleh Jon Devine, tantangan industri ke depan adalah bagaimana menyeimbangkan limpahan pasokan kapas dengan pemulihan ekonomi makro yang masih lesu di pasar-pasar utama seperti Eropa dan Tiongkok.