Adanya Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 8 Tahun 2024 yang melonggarkan aturan impor barang tekstil telah memicu keresahan di kalangan pengusaha tekstil di Pekalongan. Kebijakan ini menghadirkan persaingan yang semakin ketat dengan produk impor, menambah beban yang sudah berat pada sektor tekstil lokal.
Industri tekstil dalam negeri tengah menghadapi tekanan besar akibat derasnya arus barang impor dan selundupan. Ketua Asosiasi Produsen Serat & Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, menyebutkan bahwa kondisi ini membuat banyak perusahaan terpaksa gulung tikar, merugikan potensi ekonomi nasional hingga Rp 235 triliun.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melantik sejumlah pejabat tinggi madya di Kementerian Perindustrian, termasuk Taufik Bawazier sebagai Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT), dalam sebuah acara resmi yang digelar di Jakarta pada Senin (13/1).
Musyawarah Nasional (Munas) IX Federasi Serikat Pekerja Tekstil, Sandang, dan Kulit (FSP TSK-SPSI) resmi dibuka di Yogyakarta pada Rabu (8/1/2025). Acara ini dihadiri oleh Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Immanuel Ebenezer Gerungan, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, dan Ketua Umum FSP TSK-SPSI, Roy Jinto Ferianto.
Di tengah melemahnya industri tekstil Indonesia, sebagaimana terlihat dari pengurangan pegawai di PT. Alenatex, Bandung, hingga pailitnya Sritex di Solo, ada satu nama produsen benang yang justru mencetak prestasi gemilang: A&E Indonesia. Perusahaan asal Amerika Serikat yang berdiri sejak 1891 ini menunjukkan performa impresif meskipun baru memulai operasinya di Indonesia pada 2018.
Page 151 of 155