Industri manufaktur pakaian jadi di Asia Tenggara terus menunjukkan taji kompetitifnya di pasar global. Berdasarkan data terbaru dari Departemen TI dan Statistik Bea Cukai di bawah Kementerian Keuangan Vietnam, nilai ekspor tekstil dan garmen negara tersebut—tidak termasuk komoditas benang dan serat—berhasil tumbuh tipis sebesar 0,4 persen secara tahunan (year-on-year) hingga mencapai angka 15,130 miliar dolar AS sepanjang periode Januari hingga Mei 2026.
Angka positif ini diperkuat oleh performa ekspor benang yang melesat hingga 8,7 persen menjadi 1,886 miliar dolar AS dengan volume pasokan menyentuh 782.847 ton. Jika ditinjau dalam basis bulanan, pengapalan produk tekstil dan garmen ke luar negeri pada Mei 2026 saja mencatat kenaikan solid sebesar 3,5 persen dengan nilai menembus 3,188 miliar dolar AS, sebuah indikator penting bahwa geliat produksi domestik terus bergerak ke arah yang positif.
Meski demikian, pencapaian ini merupakan tantangan besar bagi para pelaku industri lokal. Asosiasi Tekstil dan Pakaian Jadi Vietnam (VITAS) telah menetapkan target ekspor yang sangat ambisius untuk tahun 2026, yakni sebesar 50 miliar dolar AS untuk gabungan sektor tekstil, garmen, dan benang. Angka ini dipatok sangat tinggi mengingat pada tahun 2025 lalu, total pendapatan ekspor sektor ini tertahan di angka 43,955 miliar dolar AS, sehingga gagal memenuhi target tahunan yang berada di kisaran 47 hingga 48 miliar dolar AS. Kegagalan target tahun lalu disebabkan oleh lesunya daya beli global dan fluktuasi harga bahan baku. Sinyal pemulihan bertahap pada lima bulan pertama tahun 2026 ini membawa angin segar bagi para produsen demi menebus ketertinggalan performa tahun lalu, sekaligus menyamai rekor ekspansi kuat yang sempat dirasakan pada tahun 2024.
Dari sisi pemenuhan bahan baku industri, struktur pengadaan domestik Vietnam terpantau mengalami penyesuaian yang cukup dinamis. Selama periode Januari-Mei 2026, nilai impor kapas negara tersebut turun 6,3 persen menjadi 1,268 miliar dolar AS, walaupun secara volume justru mengalami sedikit kenaikan sebesar 1,8 persen menjadi 802.061 ton. Di sisi lain, nilai impor benang melonjak hingga 8,8 persen menjadi 1,254 miliar dolar AS. Sementara itu, guna memenuhi kebutuhan lini produksi pakaian jadinya, Vietnam masih sangat bergantung pada pasokan kain impor utama yang didatangkan langsung dari Tiongkok, Korea Selatan, dan Taiwan, dengan total nilai transaksi ekivalen 6,289 miliar dolar AS.
Pihak VITAS menekankan bahwa paruh kedua tahun 2026 akan menjadi periode penentu yang sangat krusial bagi industri ini. Dinamika impor kain yang relatif stabil dan sedikit melandai sebesar 0,5 persen menunjukkan bahwa pabrik-pabrik garmen di Vietnam tengah melakukan efisiensi manajemen inventaris yang sangat ketat demi menjaga marjin keuntungan. Di tengah persaingan ketat dengan negara-negara produsen tekstil Asia lainnya, kestabilan kinerja ekspor garmen pada pertengahan tahun ini menjadi modal penting bagi Vietnam jika ingin mempertahankan daya saingnya di pasar premium seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, sekaligus mengejar target ambisius 50 miliar dolar AS sebelum menutup tahun buku 2026.