Sektor manufaktur Sri Lanka mencatatkan lonjakan signifikan pada Mei 2026, dengan Indeks Manajer Pembelian (PMI) naik tajam menjadi 56,6 poin dibandingkan 42,6 poin pada April. Peningkatan ini menandai kembalinya ekspansi dalam aktivitas manufaktur setelah sempat melambat, menurut data yang dirilis oleh Bank Sentral Sri Lanka (CBSL). Pemulihan ini memberikan sinyal positif bagi ekonomi nasional di tengah tantangan ketidakpastian global dan dampak konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah.
Pertumbuhan yang cukup impresif pada sektor manufaktur ini utamanya didorong oleh kinerja cemerlang industri tekstil dan pakaian. Data menunjukkan adanya kenaikan signifikan dalam pesanan baru, yang melonjak menjadi 52,6 poin dari 36,4 poin pada bulan sebelumnya. Sejalan dengan hal tersebut, indeks produksi juga mengalami kenaikan drastis ke level 54,6 poin, melompat dari posisi 30,5 poin di April. Peningkatan intensitas aktivitas di lantai pabrik ini turut berdampak positif pada penyerapan tenaga kerja, dengan indeks ketenagakerjaan naik ke angka 59,7 poin dari sebelumnya 47,0 poin. Selain itu, stok pembelian juga tercatat naik menjadi 52,6 poin, didorong oleh kebutuhan produksi yang lebih tinggi dan permintaan pasar yang meningkat.
Para pelaku industri mengaitkan sebagian dari perbaikan kinerja ini dengan jumlah hari kerja yang lebih banyak pada bulan Mei dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, tantangan logistik tetap membayangi, di mana waktu pengiriman pemasok masih menunjukkan keterlambatan yang signifikan dengan indeks berada di level 66,3 poin. Selain itu, perusahaan juga melaporkan bahwa lingkungan operasional yang menantang akibat konflik di Timur Tengah terus mempengaruhi operasional dan sentimen bisnis secara keseluruhan.
Sementara itu, sektor jasa di Sri Lanka juga menunjukkan performa ekspansif dengan nilai indeks 56,9 poin pada Mei 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh kinerja kuat pada sektor jasa keuangan, layanan profesional, serta transportasi barang dan perdagangan ritel. Meskipun volume bisnis baru meningkat, sektor jasa mencatat penurunan ketenagakerjaan yang disebabkan oleh faktor kontrak yang berakhir, masa pensiun, serta pengunduran diri karyawan.
Menatap masa depan, pelaku bisnis di kedua sektor tersebut tetap mempertahankan optimisme terhadap aktivitas ekonomi dalam tiga bulan ke depan. Perusahaan manufaktur berharap operasional tetap berada di atas ambang batas netral, sementara penyedia jasa mengantisipasi permintaan yang lebih kuat, didukung oleh lonjakan kedatangan wisatawan selama musim Perahera dan perbaikan kondisi ekonomi domestik. Meski begitu, Bank Sentral Sri Lanka tetap mengingatkan bahwa risiko yang terkait dengan konflik Timur Tengah dan ketidakpastian global yang lebih luas masih menjadi ancaman yang membebani kepercayaan bisnis dan prospek pertumbuhan masa depan.