Konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah mulai memberikan dampak nyata terhadap industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia. Salah satu dampak paling terasa adalah kenaikan harga bahan baku polyester yang mencapai sekitar 15%, sehingga menambah tekanan bagi pelaku industri, khususnya di sektor hulu seperti produsen serat dan benang filamen.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, mengungkapkan bahwa kenaikan ini tidak terlepas dari ketergantungan bahan baku polyester terhadap produk petrokimia yang berasal dari minyak bumi dan gas. Kondisi geopolitik yang tidak stabil membuat harga komoditas tersebut ikut terdorong naik. Beberapa bahan utama seperti paraxylene (PX), purified terephthalic acid (PTA), dan monoethylene glycol (MEG) mengalami kenaikan signifikan yang berdampak langsung pada biaya produksi industri tekstil.

Di sisi lain, industri tekstil bagian hulu sebenarnya masih memiliki kemampuan untuk mengoptimalkan produksi dalam negeri. Namun, ketergantungan terhadap impor masih terjadi, terutama untuk komoditas seperti kapas serta sebagian bahan baku petrokimia seperti PX dan MEG. Jika konflik global terus berlanjut, potensi gangguan pasokan impor menjadi ancaman yang harus diantisipasi sejak dini.

Pada sektor antara dalam rantai produksi tekstil, pelaku usaha dinilai memiliki peluang untuk meningkatkan produksi lokal guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor yang harganya terus berfluktuasi. Meski demikian, banyak produsen domestik yang masih memilih untuk bersikap hati-hati. Ketidakpastian pasar dan belum adanya jaminan kebijakan yang jelas dari pemerintah menjadi alasan utama mereka belum berani meningkatkan kapasitas produksi.

Padahal, dari sisi kapasitas dan kualitas, industri tekstil nasional dinilai mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik secara mandiri. Untuk itu, dukungan pemerintah dinilai sangat penting, terutama dalam menciptakan kepastian pasar dan keberpihakan terhadap produk dalam negeri agar industri dapat tumbuh lebih berkelanjutan.

Di tengah tekanan global, produsen hulu yang masih beroperasi saat ini berupaya menjaga tingkat utilisasi pabrik tetap berada di atas 70% guna mempertahankan kelayakan bisnis. Namun secara nasional, tingkat utilisasi industri tekstil masih berada di kisaran 45%, menunjukkan bahwa sektor ini masih menghadapi tantangan besar untuk kembali pulih dan berkembang.