Rencana peningkatan pembelian kapas (cotton) dari Amerika Serikat (AS) dinilai sulit direalisasikan di tengah anjloknya utilisasi industri pemintalan dalam negeri. Rendahnya tingkat produksi membuat kebutuhan bahan baku belum mampu kembali ke level sebelum pandemi, sehingga permintaan impor kapas pun masih tertahan.
Indonesia dan Amerika Serikat (AS) memperkuat kemitraan ekonominya melalui penandatanganan 11 nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) dengan total nilai mencapai US$ 38,4 miliar atau setara lebih dari Rp 600 triliun. Kesepakatan tersebut dicapai dalam sesi roundtable Business Summit yang diselenggarakan oleh US-ASEAN Business Council (US-ABC) pada Rabu (18/2/2026) waktu setempat dan disaksikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
Rencana pemerintah menggelontorkan investasi hingga Rp 100 triliun untuk membentuk BUMN tekstil memicu perdebatan luas di kalangan pelaku usaha. Alih-alih menjadi solusi, kebijakan ini dikhawatirkan justru berpotensi memukul industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional yang saat ini tengah tertekan.
Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia kini menaruh harapan besar pada hasil pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Agenda diplomasi tersebut dinilai krusial karena menyangkut peluang penurunan tarif resiprokal yang selama ini membebani daya saing produk nasional di pasar Amerika Serikat.
Pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi momentum penting bagi industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Pelaku usaha berharap diplomasi tingkat tinggi tersebut mampu menghasilkan keringanan tarif ekspor ke pasar Amerika Serikat, yang selama ini menjadi salah satu tujuan utama produk tekstil Indonesia.
- Menjahit Ulang Daya Saing: Jalan Panjang Kebangkitan Industri Tekstil Indonesia
- APF Kaliwungu Minta Dukungan Pemerintah, 850 Pekerja Terancam Jika Operasional Terhenti
- Misi Dagang ke Washington, Pemerintah Didorong Amankan Tarif Ekspor Industri Padat Karya
- Setelah Tutup Operasi, Saham Sritex Terancam Delisting dari BEI
- Gerakan Perempuan Minimalis Gaungkan Aksi Nyata Kurangi Limbah Fesyen
- Optimisme Pemerintah: Ekspor Tekstil Diproyeksi Melonjak 10 Kali Lipat dalam Satu Dekade
- Musnik VI PUK SPAI FSPMI PT Ayou Indotama Tekstil Perkuat Komitmen Perjuangan Bersama
Page 34 of 109
- You are here:
- Home
Terpopuler
- Peserta Pameran Global dari Berbagai Sub-sektor Dipastikan Hadir di Cinte Techtextil China 2025
- Stabilitas Pasar Kapas Global: Harga Acuan Dunia Bergerak Terbatas di Akhir 2025
- Intertextile Shanghai Edisi Musim Semi 2026 Kembali Digelar: Soroti Tren Pasar Mendatang, Inovasi, AI, dan Sustainability
- Kaleidoskop Tekstil dan Produk Tekstil 2025
- Yarn Expo Spring 2026 Soroti Transformasi Industri Menuju Masa Depan Benang dan Serat yang Berkelanjutan
- Industri Tekstil Hadapi Tahun Penentuan, Kendala Masih Membayangi Optimisme 2026
- Industri Tekstil 2025 di Persimpangan Jalan: Ketika Raksasa Satu per Satu Tumbang
Pustaka
- Sejarah Serat Buatan (Man-Made Fibres)
- Sumbu Perlawanan di Atas Sehelai Kain: Sejarah Industri Tekstil Jawa Tengah dan Gerakan Syarikat Dagang Islam H. Samanhudi
- Menapak Jejak Kota Senter: Sejarah Industri Tekstil Majalaya dari Alat Tenun Gedogan hingga Era Modern
- Sejarah Tekstil Indonesia dari Masa Kuno hingga Era Modern
- Sejarah Industri Tekstil Dunia yang Mengubah Wajah Manusia