Industri tekstil dan garmen merupakan salah satu sektor strategis yang selama puluhan tahun menjadi penopang perekonomian nasional. Selain berkontribusi signifikan terhadap kinerja ekspor, sektor ini juga menyerap jutaan tenaga kerja di berbagai daerah. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, industri tekstil nasional menghadapi tantangan yang semakin kompleks, baik akibat dinamika global maupun kebijakan di dalam negeri.

Beragam tantangan tersebut menunjukkan bahwa penguatan industri tekstil dan garmen tidak dapat dilakukan secara parsial. Diperlukan pendekatan yang menyeluruh, terintegrasi, serta berbasis kolaborasi antara pelaku usaha dan pemerintah. Dalam konteks ini, peran asosiasi industri menjadi semakin penting sebagai jembatan komunikasi dan mitra strategis dalam merumuskan kebijakan yang konstruktif dan berkelanjutan.

Salah satu asosiasi yang berperan aktif dalam penguatan industri garmen dan tekstil nasional adalah Asosiasi Garment dan Textile Indonesia (AGTI). AGTI hadir sebagai wadah pemersatu pelaku industri garmen dan tekstil Indonesia untuk membangun ekosistem industri yang berdaya saing, baik di tingkat lokal maupun global.

Didirikan pada 1 Oktober 2025 bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila, AGTI membawa semangat transformasi industri tekstil yang berlandaskan nilai-nilai Ekonomi Pancasila. Melalui kolaborasi, inovasi, serta penerapan prinsip keberlanjutan, AGTI berkomitmen mendorong industri tekstil nasional agar tumbuh secara adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Dalam perannya, AGTI menjadi ruang komunikasi, koordinasi, dan konsultasi antaranggota serta pemangku kepentingan yang berkaitan dengan industri dan perdagangan garmen serta tekstil. Selain itu, AGTI juga berfungsi sebagai pusat advokasi, informasi, dan sinergi guna meningkatkan daya saing industri, memperkuat ekosistem usaha, serta mendukung implementasi kebijakan yang berpihak pada pelaku industri nasional.

Penguatan ekosistem industri juga dilakukan melalui pendekatan langsung ke daerah. Melalui rangkaian roadshow dari Semarang hingga Jawa Barat, AGTI membuka ruang dialog dengan pelaku industri di berbagai wilayah untuk menyerap aspirasi, memetakan tantangan spesifik daerah, serta mendorong keselarasan antara kebijakan nasional dan realitas di lapangan.

Di tingkat kebijakan, AGTI secara aktif menjalankan fungsi advokasi melalui dialog dan audiensi dengan kementerian dan lembaga terkait, seperti Kementerian Ketenagakerjaan, Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Pajak, hingga Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Upaya ini bertujuan menjembatani kepentingan industri dengan arah kebijakan pemerintah agar regulasi yang dihasilkan tidak hanya responsif, tetapi juga berpijak pada kondisi riil dunia usaha.

Seluruh langkah tersebut berangkat dari visi AGTI untuk membangun ekosistem industri garmen dan tekstil Indonesia yang berdaya saing lokal dan global, bersifat transformatif, serta berkelanjutan dengan berlandaskan nilai-nilai Ekonomi Pancasila guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Visi tersebut diterjemahkan melalui berbagai misi strategis, antara lain mendorong kolaborasi dan keselarasan antara pengusaha, pekerja, dan pemerintah; meningkatkan daya saing industri melalui kualitas produk, efisiensi proses, dan penerapan standar keberlanjutan internasional; serta mendorong investasi dan hubungan industrial yang harmonis demi menciptakan iklim usaha yang kondusif.

AGTI juga menempatkan inovasi teknologi dan transformasi sumber daya manusia sebagai agenda penting industri ke depan. Digitalisasi, peningkatan kapasitas tenaga kerja, serta riset dan pengembangan menjadi elemen kunci dalam mendorong modernisasi industri garmen dan tekstil nasional.

Di saat yang sama, prinsip keberlanjutan terus diperkuat dalam rantai pasok industri melalui penerapan pilar lingkungan, sosial, dan tata kelola, sejalan dengan nilai keadilan dan kesejahteraan bersama yang terkandung dalam Ekonomi Pancasila.

Nilai-nilai tersebut tercermin dalam sikap SIGAP yang dipegang AGTI, yakni komitmen terhadap keberlanjutan, integritas dalam membangun kemitraan yang transparan dan strategis, penguatan daya saing lokal dan global, kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi dan tren global, serta pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam tata kelola industri.

Keberadaan asosiasi industri yang aktif dan konstruktif memberikan dampak luas bagi perekonomian nasional. Industri tekstil yang sehat dan kompetitif akan berkontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja, penguatan ekonomi daerah, serta peningkatan devisa negara. Dalam hal ini, peran AGTI tidak hanya dirasakan oleh anggotanya, tetapi juga oleh ekosistem industri dan masyarakat secara umum.

Dengan demikian, AGTI menjadi bagian penting dalam menjaga arah transformasi industri garmen dan tekstil nasional melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan asosiasi industri. Sinergi ini menjadi kunci agar industri tekstil Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga tumbuh dan bersaing di tingkat global, sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi ketahanan industri dan perekonomian nasional dalam jangka panjang.