Pameran tekstil dan garmen terbesar di Asia Tenggara, Indo Intertex & Inatex 2026, kembali digelar pada 15–18 April 2026 di JIExpo Kemayoran. Memasuki edisi ke-22, ajang ini semakin menegaskan perannya sebagai platform strategis dalam mendorong inovasi, kolaborasi, serta pertumbuhan industri tekstil dan garmen, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Sebagai satu-satunya pameran di Indonesia yang menghadirkan rantai nilai industri secara lengkap—mulai dari mesin, produk tekstil, teknologi printing, hingga bahan kimia—Indo Intertex & Inatex menjadi titik temu penting bagi pelaku industri. Pameran ini tidak hanya menampilkan perkembangan teknologi terkini, tetapi juga membuka peluang kerja sama untuk mempercepat transformasi sektor tekstil.

Dengan luas area lebih dari 35.000 meter persegi, acara ini diikuti oleh lebih dari 800 peserta yang mewakili sekitar 1.500 merek global. Kehadiran lebih dari 35.000 pengunjung profesional dari 29 negara ditargetkan, mencerminkan besarnya potensi kolaborasi dan ekspansi bisnis yang dapat tercipta dari ajang ini.

Direktur PT Peraga Expo, Paul Kingsen, menyampaikan bahwa pameran ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang showcase, tetapi juga sebagai penguat ekosistem industri melalui program business matching. Program ini memungkinkan pelaku usaha untuk menjalin kemitraan dan melakukan transaksi secara langsung, sekaligus mendorong investasi dan adopsi teknologi guna meningkatkan efisiensi produksi, kualitas produk, serta daya saing global.

Dari sisi kebijakan, dukungan pemerintah turut memperkuat prospek industri tekstil nasional. Salah satunya melalui Agreement on Reciprocal Trade (ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat yang memberikan fasilitas tarif impor nol persen bagi produk tekstil dan garmen melalui skema tariff-rate quota (TRQ). Kebijakan ini dinilai mampu memperluas akses pasar ekspor serta berpotensi menciptakan hingga 4 juta lapangan kerja dan memberikan dampak ekonomi bagi jutaan masyarakat Indonesia.

Saat ini, nilai ekspor industri tekstil nasional berada di kisaran USD 4 miliar, dengan target pertumbuhan hingga sepuluh kali lipat dalam satu dekade ke depan. Indo Intertex & Inatex 2026 diharapkan menjadi katalis yang mempercepat pengambilan keputusan bisnis serta meningkatkan kualitas partisipasi industri, terutama dalam aspek efisiensi, inovasi, dan keberlanjutan.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Jemmy Kartiwa Sastraatmadja, menekankan pentingnya kesiapan industri menghadapi tuntutan pasar global yang semakin kritis, khususnya terkait aspek sustainability dan regulasi. API juga akan menghadirkan pembicara internasional guna memberikan wawasan baru bagi pelaku industri dalam menembus pasar global.

Hal senada disampaikan Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia, Farhan Aqil Syauqi, yang menilai bahwa keberlanjutan menjadi faktor kunci dalam meningkatkan daya saing industri. Ia menegaskan pentingnya penguatan ekosistem domestik, terutama dalam menjaga ketersediaan bahan baku dan rantai pasok agar industri nasional semakin kokoh.

Selain pameran, berbagai program unggulan turut dihadirkan, seperti seminar dan workshop interaktif yang membahas tren, strategi, serta tantangan industri tekstil dan garmen. Isu keberlanjutan dan sirkularitas tekstil juga menjadi fokus utama, mendorong pelaku industri untuk mengadopsi praktik yang lebih ramah lingkungan.

Tak hanya itu, pengunjung juga dapat menikmati Trunk Show dari Indonesia Fashion Chamber yang menampilkan karya kreatif desainer Tanah Air, menghadirkan inspirasi sekaligus menggambarkan dinamika perkembangan industri fesyen nasional.

Dengan menggabungkan pameran, edukasi, dan showcase kreatif dalam satu platform, Indo Intertex & Inatex 2026 hadir sebagai ajang komprehensif yang tidak hanya membuka peluang bisnis, tetapi juga memperluas wawasan serta mendorong pelaku industri untuk terus berinovasi dan meningkatkan daya saing di tengah persaingan global yang semakin ketat.