Pelaku industri tekstil nasional mulai mengalihkan fokus ke pasar domestik sebagai langkah adaptif menghadapi tekanan global yang kian meningkat. Ketidakpastian pasokan bahan baku serta lonjakan biaya produksi mendorong perusahaan untuk menyesuaikan strategi bisnis demi menjaga keberlangsungan usaha.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia, Farhan Aqil Syauqi, mengungkapkan bahwa pelaku industri kini tidak hanya beralih ke pasar dalam negeri, tetapi juga melakukan penyesuaian pada lini produksi. Selain itu, pengembangan produk dengan nilai tambah lebih tinggi menjadi salah satu langkah penting untuk mempertahankan daya saing dalam jangka pendek. Strategi ini dinilai serupa dengan pendekatan yang dilakukan saat masa pandemi, di mana pasar domestik menjadi penopang utama.

Di tengah tantangan tersebut, peluang inovasi mulai dilirik, khususnya dalam pemanfaatan bahan baku alternatif. Head of PT Asia Pacific Rayon, Aryo Oetomo, menyebut bahwa serat viscose dapat menjadi solusi strategis untuk meningkatkan daya saing industri. Indonesia dinilai memiliki keunggulan sumber daya alam berbasis kayu yang dapat diolah menjadi bahan baku tekstil seperti rayon atau viscose, yang berpotensi memperkuat posisi industri di pasar global.

Selain itu, penguatan industri petrokimia domestik juga menjadi faktor krusial dalam mendukung kemandirian bahan baku. Ketersediaan infrastruktur energi, termasuk jaringan gas industri, dinilai mampu meningkatkan efisiensi produksi serta mengurangi ketergantungan terhadap impor. Dengan ekosistem industri yang lebih terintegrasi, daya tahan sektor tekstil nasional diharapkan semakin kuat di tengah dinamika global.

Namun demikian, tekanan terhadap industri masih cukup besar, terutama dari sisi biaya produksi. Ketua Umum Asosiasi Produsen Benang dan Filamen Indonesia, Redma Gita Wirawasta, menyampaikan bahwa lonjakan harga bahan baku utama seperti paraxylene (PX), purified terephthalic acid (PTA), dan monoethylene glycol (MEG) telah mendorong kenaikan harga produk berbasis polyester hingga sekitar 40 persen. Sementara itu, produk berbasis rayon relatif lebih stabil karena tidak terlalu terdampak oleh banyak komponen bahan baku.

Tekanan juga datang dari sisi logistik, di mana biaya pengiriman, terutama asuransi, mengalami peningkatan signifikan. Kondisi ini semakin mempersempit ruang bagi pelaku industri untuk menjaga efisiensi biaya produksi di tengah persaingan yang ketat.

Meski demikian, dari sisi pasokan bahan baku, kondisi masih tergolong aman hingga April 2026. Hal ini didukung oleh jaminan suplai dari Pertamina, khususnya untuk bahan baku paraxylene (PX) yang menjadi komponen penting dalam produksi polyester.

Dengan berbagai tantangan dan peluang yang ada, pergeseran fokus ke pasar domestik dinilai menjadi strategi realistis bagi industri tekstil nasional. Langkah ini tidak hanya menjaga stabilitas jangka pendek, tetapi juga menjadi fondasi untuk memperkuat daya saing industri dalam menghadapi tekanan global yang terus berkembang.