Kerja sama sektor tekstil antara Indonesia dan India memasuki fase baru yang semakin strategis, tidak hanya ditopang oleh pelaku industri, tetapi juga diperkuat melalui jalur diplomasi ekonomi. Kolaborasi ini mencerminkan upaya kedua negara dalam merespons tantangan global yang kian kompleks, mulai dari lonjakan harga energi hingga gangguan rantai pasok internasional.

Momentum penting tersebut tercermin dalam penyelenggaraan forum bisnis yang diinisiasi oleh Kedutaan Besar India di Jakarta bersama India ITME Society dan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) di Bandung pada pertengahan April 2026. Kegiatan ini mempertemukan delegasi industri tekstil India dengan berbagai perusahaan tekstil dan rekayasa tekstil Indonesia, menciptakan ruang dialog yang tidak hanya berfokus pada penjajakan kerja sama, tetapi juga membahas strategi bersama menghadapi dinamika industri global.

Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, menilai sektor tekstil memiliki potensi besar dalam mempererat hubungan bilateral kedua negara. Ia menekankan bahwa kerangka kerja sama seperti AITIGA dapat menjadi katalis utama dalam meningkatkan kolaborasi di bidang ini.

Di tengah tekanan global yang meningkat, kemitraan Indonesia dan India dinilai semakin relevan. Ketua India ITME Society, Ketan Sanghvi, menyebut bahwa kedua negara memiliki kekuatan yang saling melengkapi. India unggul dalam manufaktur mesin tekstil di berbagai lini produksi, sementara Indonesia memiliki basis manufaktur yang kuat serta pasar domestik yang besar. Kombinasi ini diyakini mampu menghasilkan solusi yang saling menguntungkan sekaligus memperkuat daya saing industri kedua negara.

Menurutnya, tantangan global saat ini menuntut adanya percepatan inovasi dan modernisasi. Kebutuhan akan mesin hemat energi dan teknologi tinggi menjadi semakin mendesak, sehingga kolaborasi strategis menjadi fondasi penting dalam mendorong pertumbuhan industri tekstil ke depan.

Dari perspektif Indonesia, kerja sama ini dipandang sebagai peluang untuk mempercepat peningkatan produktivitas melalui adopsi teknologi baru. Ketua Umum API, Jemmy Kartiwa, menyambut positif kehadiran pelaku industri mesin tekstil dari India. Ia berharap para anggota API dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperdalam pengetahuan serta memperluas kolaborasi.

Kemajuan India dalam industri permesinan tekstil dinilai sebagai contoh konkret bagaimana teknologi mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Oleh karena itu, transformasi teknologi menjadi langkah penting bagi industri tekstil nasional dalam memperkuat daya saing di pasar global. Selain itu, pelaku industri di Indonesia juga terus melakukan berbagai langkah strategis, termasuk efisiensi energi dan inovasi proses produksi.

Meski demikian, transformasi industri tidak dapat dilepaskan dari karakteristik sektor tekstil sebagai industri padat karya. Jemmy menegaskan bahwa peningkatan produktivitas harus tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga lapangan kerja. Keseimbangan antara modernisasi teknologi dan keberlanjutan tenaga kerja menjadi kunci dalam memastikan transformasi industri berjalan inklusif.

Di sisi lain, tantangan eksternal seperti kenaikan harga minyak mentah masih menjadi faktor yang memengaruhi biaya produksi, terutama melalui peningkatan harga serat sintetis. Kondisi ini diakui sebagai tantangan nyata, namun diyakini bersifat sementara dan dapat diatasi melalui inovasi serta kolaborasi berkelanjutan.

Keterlibatan aktif Kedutaan Besar India dalam forum ini menunjukkan semakin eratnya hubungan antara diplomasi dan pengembangan industri. Selain memperkuat hubungan bilateral, kerja sama ini juga membuka peluang investasi serta transfer teknologi yang lebih luas.

Indonesia pun mendapat undangan untuk berpartisipasi dalam Bharat Tex 2026, ajang tekstil berskala global yang menjadi wadah bagi inovasi dan kolaborasi lintas negara. Partisipasi ini diharapkan dapat semakin memperkuat posisi Indonesia dalam peta industri tekstil dunia.

Dengan sinergi antara pemerintah, pelaku industri, dan mitra internasional, kolaborasi Indonesia dan India diyakini mampu menjadi pendorong transformasi industri tekstil menuju arah yang lebih modern, efisien, dan berdaya saing tinggi di tengah ketidakpastian global.