Tekanan akibat konflik global yang terus berlanjut, mulai dari ketegangan di Timur Tengah hingga isu strategis seperti potensi penutupan jalur pelayaran internasional, memberikan dampak nyata bagi industri tekstil nasional. Kenaikan biaya logistik dan energi menjadi tantangan yang tidak terhindarkan. Namun, di tengah situasi tersebut, PT Mitra Saruta Indonesia yang berbasis di Nganjuk justru menunjukkan ketahanan bisnis dengan tetap mempertahankan kinerja ekspor ke puluhan negara.

Direktur PT Mitra Saruta Indonesia, Hoo Yanto Andrian, menjelaskan bahwa kondisi pasar saat ini memiliki kemiripan dengan masa krisis pandemi COVID-19. Saat itu, perusahaan sempat mengalami penurunan penjualan yang cukup tajam hingga 50 persen dalam waktu singkat. Meski demikian, kemampuan adaptasi menjadi faktor penentu keberhasilan perusahaan dalam bangkit.

Dalam waktu relatif cepat, kinerja perusahaan kembali pulih. Memasuki bulan keempat setelah tekanan terjadi, penjualan mampu meningkat signifikan hingga 40 sampai 80 persen. Pemulihan tersebut didukung oleh strategi diversifikasi produk yang memungkinkan perusahaan tetap relevan dengan kebutuhan pasar.

Ketahanan ini tidak lepas dari pengalaman panjang perusahaan yang telah beroperasi selama lebih dari tiga dekade. Sejak berdiri pada 1989 di Surabaya dengan skala industri kecil yang hanya didukung sekitar 20 mesin, PT Mitra Saruta Indonesia terus berkembang hingga kini memiliki sekitar 1.700 tenaga kerja.

Saat ini, perusahaan aktif mengekspor berbagai produk tekstil ke lebih dari 40 negara. Produk unggulan seperti sarung tangan, benang, dan kaos kaki menjadi andalan di pasar global. Jepang dan Amerika Serikat tercatat sebagai tujuan utama ekspor sarung tangan, sementara produk lainnya menjangkau berbagai negara di berbagai kawasan.

Selain fokus pada ekspansi pasar internasional, perusahaan juga mengintegrasikan prinsip keberlanjutan dalam operasionalnya. Proses produksi dilakukan dengan memanfaatkan bahan daur ulang, dengan kapasitas pengolahan limbah tekstil mencapai sekitar 3.000 ton setiap bulan. Menariknya, sebagian besar bahan baku diperoleh dari dalam negeri melalui kemitraan dengan pelaku usaha kecil dan menengah, sementara hanya sebagian kecil yang masih bergantung pada impor.

Di sisi lain, tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah lonjakan biaya logistik akibat ketidakstabilan global. Hal ini menjadi krusial mengingat volume ekspor perusahaan yang hampir mencapai 100 kontainer setiap bulan. Meski tekanan tersebut cukup signifikan, operasional perusahaan tetap berjalan stabil.

Dukungan pembiayaan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia juga menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kelancaran aktivitas ekspor. Kerja sama yang telah terjalin selama hampir satu dekade ini membantu perusahaan dalam mengelola risiko dan menjaga keberlanjutan bisnis.

Pengalaman menghadapi berbagai krisis sebelumnya, seperti konflik di Iran maupun perang Rusia–Ukraina, turut membentuk ketangguhan perusahaan dalam menghadapi situasi saat ini. Meski dampak kenaikan harga energi masih menjadi tantangan dalam menentukan strategi harga, perusahaan tetap optimistis dapat bertahan.

Kisah PT Mitra Saruta Indonesia menjadi gambaran nyata bahwa dengan adaptasi yang tepat, inovasi produk, serta dukungan ekosistem yang kuat, industri tekstil nasional masih memiliki daya tahan tinggi untuk bersaing di pasar global, bahkan di tengah tekanan geopolitik yang tidak menentu.