Industri tekstil global diperkirakan menghasilkan sekitar 92.000 ton polusi serat mikro setiap tahun, dengan sebagian besar di antaranya berakhir mencemari lingkungan. Temuan tersebut diungkap dalam laporan terbaru Earth Action yang menyoroti pentingnya perbaikan menyeluruh pada sistem produksi tekstil dan pengelolaan limbah untuk menekan pencemaran mikroplastik.

Berdasarkan laporan bertajuk From Shedding to Solutions yang dikutip dari Edie pada Kamis (30/7/2026), sekitar 63 persen atau sekitar 58.000 ton serat mikro yang dihasilkan selama proses produksi tekstil lolos ke lingkungan. Laporan ini menjadi studi global pertama yang memetakan kebocoran serat mikro di seluruh rantai produksi kain, mulai dari pemrosesan benang, pengolahan air limbah, hingga pembuangan endapan limbah.

Serat mikro merupakan partikel berukuran sangat kecil yang umumnya berasal dari bahan sintetis berbasis plastik. Partikel ini dapat terlepas selama proses produksi, penggunaan, maupun pencucian pakaian. Karena ukurannya yang sangat kecil, serat mikro sulit disaring sepenuhnya dan kini menjadi salah satu penyumbang utama polusi mikroplastik di perairan dunia.

Penelitian menunjukkan sistem pengolahan air limbah yang ada saat ini mampu menahan sekitar 34.000 ton serat mikro setiap tahun atau sekitar 82 persen dari limbah yang masuk ke instalasi pengolahan. Namun, keberhasilan tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan karena serat yang tertahan akan berpindah ke endapan lumpur limbah. Jika endapan tersebut tidak dikelola dengan benar, serat mikro tetap berpotensi mencemari tanah dan akhirnya kembali masuk ke lingkungan.

Earth Action menilai pengolahan air limbah dan pengelolaan endapan limbah harus dilakukan secara bersamaan. Mengandalkan teknologi pengolahan air limbah saja hanya mampu mengurangi kebocoran sekitar 6 persen. Sebaliknya, pengelolaan endapan limbah yang baik dapat memangkas kebocoran hingga 43 persen. Kombinasi kedua pendekatan tersebut dinilai jauh lebih efektif dalam mengurangi pencemaran.

Pendiri Earth Action, Sarah Perreard, mengatakan penelitian ini merupakan pemetaan pertama yang menggambarkan secara menyeluruh jalur pencemaran serat mikro dari industri tekstil. Menurutnya, bukti yang tersedia saat ini sudah cukup kuat untuk mendorong tindakan nyata dari industri maupun pemerintah.

Ia menegaskan bahwa serat mikro tidak berhenti di lokasi tempat partikel tersebut terlepas. Serat akan terbawa melalui sungai dan laut, masuk ke rantai makanan, hingga berpotensi masuk ke tubuh manusia. Karena itu, penundaan penanganan hanya akan membuat biaya pemulihan lingkungan semakin besar di masa mendatang.

Perreard juga menilai perusahaan tekstil dan para pembuat kebijakan tidak perlu menunggu data yang lebih lengkap untuk mulai bertindak. Data yang tersedia saat ini dinilai sudah cukup menjadi dasar untuk menerapkan berbagai langkah pengendalian polusi.

Dari sisi geografis, sebagian besar kebocoran serat mikro berasal dari negara-negara produsen tekstil terbesar dunia. Bangladesh, Pakistan, dan China secara bersama-sama menyumbang sekitar 54 persen kebocoran serat mikro selama proses produksi, dengan kontribusi masing-masing sebesar 25 persen, 17 persen, dan 12 persen.

Apabila mempertimbangkan efektivitas pengolahan air limbah dan pengelolaan endapan limbah, Bangladesh tetap menjadi penyumbang terbesar dengan 24 persen dari total pencemaran global. China berada di posisi kedua dengan kontribusi 15 persen, sedangkan Pakistan menyumbang sekitar 11 persen.

Selain pengelolaan limbah, laporan tersebut menekankan pentingnya inovasi pada desain dan proses pembuatan kain. Perubahan pada struktur benang, tingkat kerapatan kain, hingga teknik penyelesaian akhir (finishing) terbukti mampu mengurangi pelepasan serat mikro secara signifikan. Pada beberapa jenis kain poliester, berbagai penelitian bahkan menunjukkan penurunan pelepasan serat hingga 60–90 persen.

Earth Action memperkirakan penerapan produksi yang lebih bersih, perluasan sistem pengolahan air limbah, serta pengelolaan endapan limbah secara terintegrasi dapat mengurangi kebocoran serat mikro hingga 95 persen pada 2032. Jika dilakukan secara terpisah, berbagai langkah tersebut diperkirakan mampu mencegah sekitar 54.000 ton kebocoran serat mikro. Namun, jika diterapkan secara bersamaan, jumlah kebocoran yang dapat dicegah meningkat menjadi sekitar 74.000 ton, menunjukkan bahwa pendekatan terpadu menjadi solusi paling efektif untuk mengurangi pencemaran serat mikro dari industri tekstil.