Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Indonesia diproyeksikan masih mampu mencatatkan pertumbuhan sekitar 5% hingga akhir 2026. Namun, di balik angka pertumbuhan tersebut terdapat kondisi paradoks, yakni investasi baru terus berdatangan sementara sejumlah pabrik tekstil lama masih menghadapi tekanan hingga harus menghentikan kegiatan produksinya.

Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wiraswasta mengatakan, kinerja industri TPT pada kuartal I dan kuartal II 2026 masih menunjukkan pertumbuhan. Kondisi tersebut membuat asosiasi optimistis pertumbuhan industri secara keseluruhan dapat mencapai sekitar 5% pada akhir tahun.

"Secara statistik, kuartal I-2026 dan kuartal II-2026 angkanya juga masih tumbuh, bahkan kita bisa proyeksi akhir tahun bisa tumbuh sekitar 5%. Pertumbuhan investasi baru menjadi faktor utama," kata Redma, dikutip Selasa (11/8/2026).

Meski demikian, pertumbuhan secara statistik dinilai belum sepenuhnya menggambarkan kondisi industri TPT nasional. Pasalnya, angka tersebut belum memperhitungkan hilangnya kapasitas produksi akibat penutupan pabrik, penjualan mesin, maupun mesin produksi yang sudah tidak digunakan atau di-scrap.

Menurut Redma, kondisi tersebut juga tercermin dari sisi ketenagakerjaan. Investasi baru yang masuk belum mampu sepenuhnya menggantikan jumlah tenaga kerja yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat penutupan atau pengurangan kapasitas produksi di sejumlah perusahaan sebelumnya.

"Tapi pertumbuhan kan tidak menghitung investasi yang hilang akibat pabrik tutup, mesin-mesin yang di-scrap atau dijual, dan dalam perhitungan kasarnya dari sisi tenaga kerja, investasi baru ini belum bisa mengimbangi jumlah pekerja yang di-PHK sebelumnya," ujarnya.

Paradoks tersebut terjadi karena investasi baru, khususnya penanaman modal asing (PMA), cenderung hadir dengan mesin dan teknologi produksi yang lebih modern. Sementara itu, perusahaan yang telah lama beroperasi harus menghadapi tekanan persaingan yang semakin berat, terutama dari produk impor berharga murah yang membanjiri pasar domestik dalam beberapa tahun terakhir.

"Jadi kondisi paradoks ini disebabkan oleh investasi asing (PMA) yang baru masuk dengan permesinan modern. Namun di sisi lain, investasi yang ada sebelumnya justru lebih dahulu tertekan, akibat tidak bisa bersaing dengan barang impor murah dalam 5 tahun terakhir," tutur Redma.

Di tengah kondisi tersebut, aktivitas operasional di sebagian besar perusahaan TPT disebut mulai kembali normal. Jam kerja perusahaan secara umum telah berjalan seperti biasa, meskipun volume produksi masih disesuaikan dengan kemampuan masing-masing perusahaan dalam memperoleh bahan baku.

"Jam kerja sebagian besar perusahaan sudah dalam kondisi normal, meskipun jumlah produksi disesuaikan dengan kemampuan perusahaan dalam membeli bahan baku," ungkapnya.

Redma mengatakan, APSyFI saat ini tidak lagi melakukan penghitungan khusus terhadap jumlah pabrik TPT yang tutup. Penutupan memang masih terjadi, tetapi skalanya dinilai tidak sebesar gelombang penutupan yang berlangsung pada 2023-2024.

"Kami sudah tidak lagi menghitung pabrik yang tutup, memang ada beberapa, tapi tidak sebanyak penutupan pabrik seperti tahun 2023-2024. Toh juga meski banyak pabrik tutup, pemerintah masih merasa aman dan kinerjanya baik-baik saja," kata Redma.

Menurutnya, fenomena pabrik lama yang tertekan dan investasi baru yang masuk kemungkinan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Perusahaan dengan kondisi keuangan terbatas menjadi kelompok yang paling rentan menghadapi penutupan karena harus bersaing dengan produk impor di pasar domestik sekaligus menghadapi persaingan ketat di pasar ekspor.

"Paradoks ini akan masih terus terjadi, penutupan pabrik masih akan terus ada, terutama bagi perusahaan dengan kemampuan keuangan pas-pasan dan harus berjibaku bersaing dengan barang impor, atau yang pasar ekspornya diambil oleh Vietnam dan India," ujarnya.

Di sisi lain, Indonesia masih memiliki daya tarik bagi investor baru. Besarnya pasar domestik menjadi salah satu alasan utama investasi baru tetap masuk. Selain itu, struktur biaya produksi Indonesia dinilai masih cukup kompetitif untuk mendukung industri TPT menembus pasar ekspor.

"Tapi di sisi lain juga, investasi baru dengan mesin-mesin modern khususnya dari PMA masih akan terus masuk, karena pasar domestik kita yang sangat besar, dan struktur biaya yang masih cukup kompetitif untuk bersaing di pasar ekspor," jelas Redma.

Meski prospek investasi masih terbuka, terdapat sejumlah persoalan yang dinilai perlu segera dibenahi pemerintah. Redma menyebut proses perizinan dan kondisi persaingan di pasar domestik sebagai dua faktor yang masih menjadi hambatan bagi pengembangan industri TPT.

"Dua hal yang masih akan jadi hambatan investasi adalah proses perizinan, dan pemerintah yang secara konsisten masih memelihara persaingan yan