Tren membeli pakaian murah khusus untuk digunakan saat berlibur tengah berkembang di China. Pakaian tersebut biasanya dipakai hanya sekali atau beberapa kali selama perjalanan, terutama untuk menunjang penampilan ketika berfoto di berbagai destinasi wisata. Meski dinilai praktis dan ekonomis, kebiasaan ini mulai mendapat sorotan karena berpotensi memperbesar persoalan limbah tekstil.

Fenomena yang dikenal sebagai “pakaian sekali pakai” tersebut ramai diperbincangkan di media sosial China sepanjang musim panas 2026. Laporan South China Morning Post (SCMP) pada 3 September 2026 menyebut salah satu tagar terkait tren tersebut telah mengumpulkan sekitar 6,8 juta penayangan dan 135.000 diskusi di sebuah platform media sosial China.

Bagi sebagian wisatawan, membeli pakaian khusus untuk perjalanan dianggap sebagai cara sederhana untuk menghemat ruang di dalam koper. Alih-alih membawa banyak pakaian dari rumah, mereka dapat membeli sejumlah busana dengan harga murah untuk dikenakan di berbagai lokasi wisata dan tidak perlu repot membawanya kembali setelah perjalanan.

Seorang pengguna media sosial bahkan mengungkapkan dirinya membeli lima set pakaian untuk perjalanan selama tujuh hari dengan total pengeluaran tidak lebih dari 200 yuan. Pakaian tersebut memang sejak awal tidak direncanakan untuk menjadi koleksi yang digunakan dalam jangka panjang.

Popularitas tren ini tidak terlepas dari meningkatnya budaya berbagi foto perjalanan di media sosial. Busana yang dibeli biasanya memiliki desain yang mencolok dan dianggap lebih cocok digunakan pada momen tertentu dibandingkan untuk aktivitas sehari-hari.

Pilihan pakaian pun disesuaikan dengan karakter destinasi. Mulai dari rok panjang berwarna cerah, jubah, hingga jaket luar ruangan banyak dipilih karena mampu menciptakan tampilan berbeda ketika digunakan untuk berfoto.

Seorang pemilik toko pakaian wanita yang dikutip media China, City Express, mengatakan tokonya menyediakan berbagai model pakaian berdasarkan lokasi wisata dan kesempatan tertentu. Untuk perjalanan ke kawasan pantai, misalnya, tersedia rok yang dirancang agar terlihat menarik dalam foto. Toko tersebut juga menyediakan hanfu untuk Festival Perahu Naga serta pakaian dengan desain khas bagi wisatawan yang berkunjung ke Xinjiang.

Pasarnya pun didominasi konsumen muda. Pemilik toko tersebut menyebut sekitar 15.000 barang terjual setiap bulan, dengan mayoritas pembelinya berada pada rentang usia 18 hingga 30 tahun.

Harga menjadi salah satu faktor utama yang membuat pakaian tersebut diminati. Produk yang paling banyak dibeli berada pada kisaran 10 yuan hingga 50 yuan. Nilai tersebut relatif murah dan bagi konsumen tertentu setara dengan biaya makan sederhana, sehingga membeli pakaian baru untuk setiap perjalanan dianggap tidak terlalu membebani pengeluaran.

Model bisnis ini menunjukkan bahwa media sosial mulai memengaruhi cara konsumen memandang pakaian. Busana tidak lagi hanya dipertimbangkan berdasarkan fungsi dan daya tahan, tetapi juga berdasarkan kemampuannya menghasilkan tampilan menarik untuk kebutuhan konten perjalanan.

Setelah liburan selesai, sebagian pakaian memang tidak langsung menjadi sampah. Ada konsumen yang memilih menjualnya kembali melalui platform perdagangan daring. Namun, sebagian lainnya memilih membuang pakaian tersebut karena sejak awal tidak memiliki rencana untuk menggunakannya kembali.

Kebiasaan tersebut kemudian memunculkan kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap lingkungan. Harga yang murah bagi konsumen tidak berarti biaya produksinya juga kecil bagi lingkungan. Setiap pakaian tetap membutuhkan bahan baku, energi, air, proses manufaktur, transportasi, hingga distribusi sebelum sampai ke tangan pembeli.

Sejumlah pengguna media sosial mengkritik pola konsumsi tersebut karena masa penggunaan pakaian yang sangat singkat berpotensi memperbesar jumlah limbah. Mereka menilai sebuah pakaian tetap melalui proses produksi yang panjang meskipun pada akhirnya hanya digunakan untuk satu atau dua kali perjalanan.

Data Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) menunjukkan bahwa persoalan limbah tekstil memang telah menjadi isu global. Sekitar 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan setiap tahun di seluruh dunia. Produksi tekstil juga meningkat dua kali lipat antara 2000 dan 2015, sementara masa penggunaan pakaian justru mengalami penurunan sekitar 36 persen.

Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan jumlah pakaian yang dibuang. UNEP mencatat hanya sekitar 8 persen serat tekstil pada 2023 yang berasal dari sumber daur ulang. Pakaian dan produk tekstil juga menyumbang sekitar 11 persen dari limbah plastik.

Dalam konteks tersebut, tren pakaian sekali pakai menjadi perhatian karena berpotensi semakin memperpendek masa penggunaan produk fesyen. Ketika pakaian sengaja dibeli untuk kebutuhan perjalanan singkat dan kemudian tidak digunakan kembali, siklus hidup produk menjadi jauh lebih pendek.

Selain persoalan lingkungan, kualitas dan kebersihan pakaian juga menjadi perhatian ketika produk tersebut dijual kembali. Seorang profesor sekaligus direktur Pusat Penelitian Industri Budaya di Universitas Sichuan menyoroti potensi masalah kebersihan apabila pakaian yang sebelumnya digunakan kemudian berpindah tangan melalui situs barang bekas.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pasar pakaian bekas. Konsumen berikutnya perlu mempertimbangkan kondisi produk serta riwayat penggunaannya, terutama apabila pakaian sebelumnya memang dirancang untuk digunakan dalam waktu sangat singkat.

Di sisi lain, fenomena ini memperlihatkan perubahan perilaku konsumsi wisatawan muda. Pakaian semakin dipandang sebagai bagian dari pengalaman visual selama perjalanan. Setiap destinasi dapat menjadi kesempatan untuk menghasilkan foto dengan penampilan yang berbeda, sehingga membeli pakaian murah khusus untuk sebuah perjalanan dianggap sebagai bagian dari pengalaman wisata.

Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana perkembangan media sosial, budaya foto, dan industri fesyen murah saling berkelindan dalam membentuk kebiasaan konsumsi baru. Apa yang terlihat praktis dan murah bagi konsumen dapat membawa konsekuensi yang lebih panjang bagi lingkungan.

Bagi industri fesyen, tren tersebut tentu membuka peluang pasar baru, khususnya untuk produk berharga rendah yang dirancang berdasarkan karakter destinasi wisata dan tren media sosial. Namun, dari sisi keberlanjutan, semakin pendek masa penggunaan pakaian, semakin besar tantangan untuk memastikan produk tidak berakhir sebagai limbah.

UNEP mendorong penerapan pendekatan ekonomi sirkular dalam industri tekstil melalui produksi yang lebih berkelanjutan, penggunaan kembali, perbaikan, serta pengurangan limbah. Pendekatan tersebut menjadi semakin relevan ketika pola konsumsi fesyen bergerak ke arah penggunaan produk dalam waktu yang semakin singkat.

Tren pakaian sekali pakai di China pada akhirnya bukan sekadar fenomena gaya berpakaian saat liburan. Fenomena tersebut menjadi gambaran bagaimana budaya media sosial dan harga fesyen yang murah dapat mengubah perilaku konsumen. Di tengah kemudahan mendapatkan pakaian untuk kebutuhan foto, muncul pertanyaan mengenai seberapa lama sebuah produk fesyen seharusnya digunakan dan siapa yang menanggung dampaknya ketika masa pakainya berakhir.