Batik Tulis Merawit yang berkembang di kawasan Trusmi, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, mulai dikembangkan ke dalam berbagai produk fashion untuk memperluas pasar sekaligus menjawab perubahan kebutuhan konsumen. Upaya tersebut dilakukan melalui program pemberdayaan masyarakat yang melibatkan Tim Ahli Dosen Kriya Tekstil dan Fashion Universitas Muhammadiyah Bandung bersama para perajin yang tergabung dalam Perkumpulan Perajin dan Pengusaha Batik Cirebon (P3BC).
Program bertajuk “Inovasi dan Peningkatan Kualitas Produk Batik Tulis Merawit di Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon” tersebut difokuskan pada peningkatan kualitas dan pengembangan produk dengan tetap mempertahankan karakter tradisional Batik Tulis Merawit.
Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung Komarudin Kudiya mengatakan, persaingan dengan produk tekstil bermotif batik yang diproduksi secara massal membuat perajin batik tulis perlu menjaga kualitas sekaligus beradaptasi dengan perubahan pasar.
Menurutnya, kekuatan Batik Tulis Merawit tidak terletak pada kemampuan bersaing dari sisi harga, melainkan pada keterampilan tangan, kehalusan pengerjaan, keaslian proses, identitas daerah, serta nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
“Nilai Batik Tulis Merawit justru terletak pada keterampilan tangan, kehalusan pengerjaan, keaslian proses, identitas daerah, serta cerita budaya yang menyertainya. Karena itu, inovasi produk perlu dilakukan tanpa menghilangkan karakter dan jati diri batik tersebut,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (11/9/2026).
Batik Tulis Merawit memiliki ciri khas pada teknik pengerjaannya yang menggunakan goresan malam secara halus, teratur, dan presisi. Detail isen-isen yang dibuat menggunakan canting membutuhkan ketelitian, kesabaran, serta pengalaman yang panjang. Keahlian tersebut menjadi bagian dari pengetahuan tradisional yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Selama ini, Batik Tulis Merawit masih banyak dipasarkan dalam bentuk kain panjang dan bahan busana. Kondisi tersebut menjadi tantangan di tengah perubahan perilaku konsumen, terutama generasi muda yang cenderung mencari produk yang praktis, fleksibel, dan dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan.
Melihat peluang tersebut, tim dosen bersama para perajin melakukan pengamatan terhadap berbagai aspek produksi, mulai dari kualitas garis, kerapian isen, komposisi motif, penggunaan warna, hingga kemungkinan penerapan Batik Merawit pada produk selain kain panjang.
Dari proses pendampingan tersebut, sejumlah produk baru mulai dikembangkan, seperti slayer, scarf, dan tas kulit yang dipadukan dengan Batik Tulis Merawit. Pengembangan ini diharapkan dapat membuat Batik Merawit lebih mudah digunakan dalam kehidupan sehari-hari tanpa menghilangkan karakter khasnya.
Produk slayer dan scarf, misalnya, dapat menjadi alternatif bagi konsumen yang ingin mengenakan Batik Merawit tanpa harus membeli kain panjang. Produk tersebut juga dapat dipadukan dengan busana modern sehingga motif dan karakter teknik Merawit tetap terlihat.
Sementara itu, kombinasi Batik Merawit dengan tas kulit membuka peluang baru dalam kolaborasi antara kriya tekstil dan produk fashion. Potongan Batik Merawit dapat digunakan sebagai elemen visual yang memberikan identitas sekaligus nilai estetika pada produk.
Diversifikasi tersebut juga menjadi strategi untuk meningkatkan nilai tambah Batik Tulis Merawit. Mengingat proses pembuatannya membutuhkan keterampilan tinggi dan waktu yang relatif panjang, produk batik tulis dinilai tidak tepat jika harus berhadapan langsung dengan produk tekstil bermotif batik yang dibuat secara massal dalam persaingan harga.
Selain mengembangkan jenis produk, pendampingan juga mendorong perajin untuk mengeksplorasi komposisi motif, ukuran, repetisi, isen-isen, dan warna agar dapat disesuaikan dengan berbagai bentuk produk. Penyesuaian tersebut penting karena motif yang dirancang untuk kain panjang belum tentu sesuai ketika diterapkan pada scarf atau bidang kecil sebuah tas.
“Inovasi produk tidak cukup dilakukan dengan memotong kain kemudian memasangnya pada benda lain. Motif perlu dirancang sejak awal dengan mempertimbangkan bentuk produk, posisi visual, fungsi, dan karakter pengguna,” kata Komarudin.
Program tersebut juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas perajin dalam mengembangkan produk kriya berbasis budaya lokal. Perguruan tinggi dapat memberikan pengetahuan mengenai desain, tekstil, fashion, pengembangan produk, dan pendekatan pasar. Sementara itu, para perajin memiliki keterampilan tradisional serta pengalaman dalam proses produksi.
Pertemuan antara pengetahuan akademik dan keterampilan tradisional tersebut menjadi dasar untuk menghasilkan inovasi yang tetap mempertahankan identitas Batik Tulis Merawit sebagai bagian dari budaya Cirebon.
Ke depan, Tim Dosen Kriya Tekstil dan Fashion Universitas Muhammadiyah Bandung akan terus mendorong penyempurnaan teknik, pengembangan desain, diversifikasi produk, dokumentasi, penguatan identitas, serta peningkatan kemampuan perajin dalam membaca kebutuhan pasar. Pendampingan juga diarahkan agar para perajin mampu melanjutkan proses inovasi secara mandiri.
Komarudin menilai kolaborasi antara akademisi, perajin, komunitas, dan pelaku usaha menjadi salah satu kunci agar Batik Tulis Merawit dapat berkembang sebagai produk kriya dan fashion bernilai tinggi. Dengan inovasi yang tetap berakar pada tradisi, Batik Tulis Merawit diharapkan mampu menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus mempertahankan keaslian dan jati dirinya sebagai warisan budaya Cirebon.