Rencana pemerintah memberikan fasilitas kredit berbunga rendah sebesar 6 persen untuk program peremajaan mesin disambut positif oleh pelaku industri tekstil dan alas kaki nasional. Kebijakan tersebut dinilai dapat menjadi dorongan penting bagi industri padat karya untuk meningkatkan efisiensi produksi, produktivitas, hingga daya saing di tengah tekanan produk impor dan kondisi pasar global yang menantang.

Program kredit tersebut akan menyasar sektor tekstil, sepatu, serta sejumlah industri manufaktur lainnya melalui skema pembiayaan yang disalurkan oleh Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia.

Ketua Dewan Pembina Asosiasi Persepatuan Indonesia, Eddy Widjanarko, mengatakan program restrukturisasi mesin menjadi langkah yang tepat untuk memperkuat daya saing industri nasional. Menurutnya, peremajaan mesin dapat membantu menjaga efisiensi produksi perusahaan di tengah tingginya tekanan biaya operasional.

Hal senada disampaikan Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia, Redma Gita Wirawasta. Ia menilai penyaluran kredit melalui LPEI merupakan keputusan yang tepat karena lembaga tersebut memiliki fleksibilitas dalam aturan pembiayaan.

Menurut Redma, suku bunga kredit sebesar 6 persen cukup menarik untuk mendorong industri melakukan modernisasi mesin produksi. Meski demikian, keputusan investasi tetap akan dipengaruhi kondisi persaingan pasar domestik, khususnya terkait maraknya produk impor ilegal dan praktik dumping yang masih membebani industri dalam negeri.

Ia menegaskan tantangan utama industri tekstil saat ini tidak hanya berasal dari pembiayaan, tetapi juga lemahnya perlindungan pasar domestik terhadap serbuan barang impor murah.

Sementara itu, Ketua Umum Bidang Perdagangan Asosiasi Pengusaha Indonesia, Anne Patricia Sutanto, menilai modernisasi mesin sudah menjadi kebutuhan mendesak bagi industri tekstil dan garmen nasional. Selain meningkatkan produktivitas dan efisiensi energi, pembaruan teknologi dinilai penting untuk meningkatkan kualitas produk dan memperkuat daya saing ekspor.

Anne juga menyoroti industri tekstil kini menghadapi tuntutan global terkait sustainability, dekarbonisasi, dan penerapan industri 4.0 yang semakin menjadi perhatian pembeli internasional. Ia mencatat sektor tekstil dan garmen masih menjadi salah satu industri strategis nasional dengan penyerapan tenaga kerja mencapai sekitar 3,96 juta orang dan nilai ekspor mencapai US$12,08 miliar sepanjang 2025.

Meski demikian, kalangan industri berharap implementasi program kredit dapat dilakukan secara cepat, mudah diakses, serta tepat sasaran agar insentif benar-benar memberikan dampak nyata bagi dunia usaha.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, minat investasi industri untuk restrukturisasi mesin mencapai sekitar Rp847 miliar. Namun, alokasi program yang tersedia saat ini baru sekitar Rp24 miliar sehingga masih terdapat kesenjangan kebutuhan pembiayaan yang cukup besar.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah akan memberikan fasilitas kredit bunga rendah bagi industri tekstil, sepatu, dan manufaktur lainnya untuk program peremajaan mesin melalui LPEI. Pemerintah juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian untuk memetakan perusahaan yang membutuhkan dukungan restrukturisasi mesin dan pembiayaan.

Menurut Purbaya, sektor swasta memiliki kontribusi sekitar 90 persen terhadap perekonomian nasional sehingga pemerintah perlu terus mendorong ekspansi dunia usaha melalui berbagai insentif dan kemudahan akses pembiayaan.