Pelemahan nilai tukar rupiah kembali memberi tekanan terhadap industri tekstil nasional. Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh perusahaan-perusahaan sektor hulu tekstil yang kini menghadapi peningkatan biaya produksi akibat tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) menyebut melemahnya rupiah membuat arus kas perusahaan semakin terbebani. Ketua Umum APSyFI, Redma Gita Wirawasta, mengatakan banyak perusahaan mulai melakukan penyesuaian operasional demi menjaga keberlangsungan usaha di tengah tekanan biaya.
Menurutnya, sejumlah perusahaan telah mengurangi pembelian bahan baku dan menurunkan kapasitas produksi agar cashflow tetap berjalan. Meski belum terjadi pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran, banyak tenaga kerja kontrak disebut sudah tidak diperpanjang.
Ia menjelaskan, industri tekstil nasional masih sangat bergantung pada bahan baku impor, terutama untuk produk petrokimia tekstil seperti Mono Ethylene Glycol (MEG) yang sekitar 85 persen kebutuhannya masih didatangkan dari luar negeri. Sementara itu, bahan baku Purified Terephthalic Acid (PTA) disebut sudah sekitar 95 persen diproduksi di dalam negeri.
Kondisi ini membuat industri tekstil semakin rentan ketika nilai tukar rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Kenaikan biaya impor bahan baku otomatis meningkatkan biaya produksi dan menekan daya saing perusahaan di tengah kondisi pasar yang belum sepenuhnya pulih.
APSyFI pun meminta pemerintah lebih cermat dalam mengelola devisa negara dan memperkuat sektor manufaktur domestik. Langkah tersebut dinilai penting agar industri nasional tidak terus bergantung pada impor bahan baku yang membuat sektor manufaktur mudah terdampak gejolak nilai tukar mata uang.