Masuknya kain impor asal China secara masif ke pasar domestik semakin menekan keberlangsungan industri tekstil nasional. Kondisi ini turut dirasakan oleh pelaku industri di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Salah satu perusahaan tekstil di wilayah tersebut, PT Delta Merlin Sandang Tekstil (DMST) 1, bahkan terpaksa melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terhadap sekitar 60 persen pekerjanya akibat kalah bersaing dengan produk impor yang lebih murah.
Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Sragen, Sugiyamto, menilai fenomena dominasi produk tekstil China sebenarnya sudah dapat diprediksi sejak lama. Menurutnya, industri tekstil China unggul dari sisi teknologi produksi, efisiensi biaya, hingga ketersediaan bahan baku sehingga mampu menghasilkan produk dengan harga lebih rendah namun tetap memiliki kualitas yang baik.
Ia mengatakan pelaku usaha tekstil dalam negeri perlu melakukan langkah adaptif agar dapat bertahan di tengah persaingan global yang semakin ketat. Salah satu cara yang dinilai penting adalah membangun kerja sama strategis untuk memperoleh bahan baku dengan harga lebih terjangkau sehingga operasional perusahaan dapat kembali stabil.
Sugiyamto menegaskan bahwa tanpa adanya terobosan kerja sama, industri tekstil nasional akan terus tertekan oleh produk impor yang memiliki daya saing lebih tinggi. Ia juga mendorong perusahaan untuk mencari pola bisnis yang lebih fleksibel agar mampu meningkatkan keuntungan sekaligus membuka kembali lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Terkait usulan pembatasan impor tekstil, Sugiyamto menyerahkan sepenuhnya kebijakan tersebut kepada pemerintah pusat. Namun, dari sudut pandang bisnis, ia menilai perusahaan harus jeli melihat peluang kerja sama dengan pihak yang mampu memberikan keuntungan lebih besar dan menjaga keberlangsungan usaha.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Sragen, Pujono Elly Bayu Effendi, mengaku prihatin terhadap kondisi yang dialami industri tekstil di daerahnya. Sebagai pelaku usaha, ia memahami besarnya tekanan yang kini dihadapi perusahaan tekstil akibat derasnya arus barang impor.
Bayu Effendi menyatakan pihaknya akan membawa aspirasi para pelaku usaha tekstil Sragen melalui jalur partai politik agar persoalan ini mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat. Menurutnya, diperlukan langkah konkret untuk melindungi industri padat karya agar gelombang PHK tidak semakin meluas.
Derasnya arus kain impor dari China yang menawarkan harga murah dan kualitas kompetitif dinilai menjadi tantangan besar bagi industri tekstil nasional. Pelaku usaha berharap pemerintah dapat segera menghadirkan kebijakan yang mampu memperkuat daya saing industri dalam negeri, baik melalui perlindungan pasar maupun skema kerja sama bahan baku yang lebih menguntungkan.