Meningkatnya konsumsi pakaian dinilai menjadi salah satu penyebab melonjaknya limbah tekstil yang kini mulai mengancam kelestarian lingkungan. Kesadaran untuk membeli pakaian sesuai kebutuhan pun dinilai penting guna menekan penumpukan sampah tekstil yang sulit didaur ulang.
Sutradara film dokumenter “Menolak Punah”, Aji Yahuti, mengaku dirinya hanya membeli pakaian ketika benar-benar diperlukan. Menurutnya, isi lemari pakaiannya relatif tidak banyak berubah selama sekitar 20 tahun terakhir.
Pernyataan tersebut berangkat dari kekhawatiran terhadap pola konsumsi masyarakat yang terus membeli pakaian baru meski tidak dibutuhkan. Kebiasaan tersebut menyebabkan pakaian menumpuk di lemari hingga akhirnya dibuang dan menjadi sampah.
Sebagian pakaian memang masih bisa disalurkan kepada panti asuhan maupun korban bencana. Namun jika jumlahnya berlebihan dan tidak tepat sasaran, pakaian bekas justru berpotensi menjadi limbah baru. Kondisi seperti itu pernah terlihat di sejumlah lokasi bencana di Sumatera, di mana pakaian bantuan berserakan dan tidak terpakai.
Persoalan limbah tekstil kini menjadi perhatian global. Lembaga lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat produksi limbah tekstil dunia mencapai 92 juta ton setiap tahun. Jumlah tersebut meningkat dua kali lipat dalam periode 2000 hingga 2015.
Di sisi lain, durasi penggunaan pakaian oleh masyarakat justru menurun hingga 36 persen. Kondisi ini mempercepat siklus konsumsi dan pembuangan pakaian. Sebanyak 11 persen limbah plastik global juga disebut berasal dari pakaian dan produk tekstil, sementara hanya sekitar 8 persen serat tekstil pada 2023 yang berasal dari bahan daur ulang.
Di Indonesia, persoalan limbah tekstil juga terus meningkat. Data Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta pada 2025 mencatat limbah kain dari seluruh wilayah Jakarta mencapai rata-rata 68,4 ton per hari atau sekitar 25 ribu ton per tahun. Sebagian besar limbah tersebut sulit untuk didaur ulang.
Secara nasional, Indonesia diperkirakan menghasilkan sekitar 2,3 juta ton limbah tekstil setiap tahun. Angka tersebut menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan sampah industri fesyen dan konsumsi rumah tangga.
Isu ketahanan sandang dinilai tidak kalah penting dibanding ketahanan pangan karena sama-sama berkaitan dengan keberlanjutan lingkungan. Kerusakan alam akibat limbah tekstil menjadi persoalan bersama yang membutuhkan kesadaran kolektif dari masyarakat, industri, hingga pemerintah agar dampaknya tidak semakin parah di masa depan.