PT Soraya Berjaya Indonesia Tbk (SPRE), emiten yang bergerak di industri tekstil perlengkapan kamar tidur, mencatat penurunan kinerja keuangan pada kuartal I-2026. Pelemahan daya beli masyarakat serta meningkatnya beban operasional menjadi faktor utama yang menekan pendapatan dan laba bersih perusahaan.

Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, pendapatan bersih SPRE pada tiga bulan pertama 2026 tercatat sebesar Rp10,9 miliar atau turun 4,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp11,4 miliar.

Kontribusi pendapatan terbesar masih berasal dari penjualan sprei set senilai Rp6,96 miliar, diikuti produk bedcover sebesar Rp2,42 miliar. Sementara itu, penjualan badan bantal dan guling menyumbang Rp886,7 juta, sedangkan kategori aksesori rumah tangga memberikan kontribusi Rp678,03 juta.

Direktur SPRE, Ridho Ferman Shatrio, menjelaskan bahwa penurunan penjualan tidak terlepas dari kondisi daya beli masyarakat yang masih lemah. Menurutnya, konsumen kini lebih berhati-hati dan selektif dalam membelanjakan uangnya sehingga permintaan terhadap produk perlengkapan rumah tangga mengalami perlambatan.

Selain faktor konsumsi domestik, perusahaan juga menghadapi tantangan dari kondisi ekonomi global. Inflasi, konflik geopolitik, serta tingginya suku bunga dinilai menciptakan ketidakpastian yang berdampak pada kenaikan harga barang dan semakin menekan minat belanja masyarakat, terutama untuk produk sprei dan bedcover.

Tidak hanya pendapatan yang menurun, laba bersih perusahaan juga mengalami penurunan yang lebih tajam. Pada kuartal I-2026, laba bersih SPRE tercatat sebesar Rp208 juta, turun sekitar 59,7 persen dibandingkan Rp516 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Ridho menjelaskan, penurunan laba bersih dipengaruhi oleh meningkatnya beban operasional perusahaan pada awal tahun. Kenaikan biaya tersebut terutama berasal dari pembayaran gaji dan tunjangan karyawan, termasuk tunjangan hari raya (THR), serta pembayaran kewajiban pajak yang dilakukan selama kuartal pertama.

SPRE saat ini memasarkan berbagai produk tekstil rumah tangga, antara lain sprei, bedcover, sarung bantal, bantal, guling, matras portabel, hingga handuk. Produk-produk tersebut dipasarkan melalui sejumlah merek dagang, seperti Soraya, Unoku, dan Flete.

Ke depan, perusahaan diharapkan mampu menjaga efisiensi operasional sekaligus menyesuaikan strategi pemasaran dengan kondisi pasar agar dapat mempertahankan kinerja di tengah tantangan ekonomi dan perlambatan konsumsi masyarakat.