Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal membayangi sekitar 850 pekerja PT Asia Pacific Fibers Tbk (APF) di Kendal, Jawa Tengah. Para pekerja meminta pemerintah segera mengambil langkah untuk menjaga keberlangsungan operasional perusahaan tekstil tersebut di tengah kekhawatiran terhadap penurunan aktivitas pabrik.

Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh Said Iqbal mengunjungi langsung fasilitas PT Asia Pacific Fibers Tbk di Kendal untuk melihat kondisi perusahaan sekaligus merespons kekhawatiran pekerja mengenai potensi PHK massal.

Menurut Said, kondisi operasional pabrik yang terus mengalami penurunan perlu mendapatkan perhatian serius. Pemerintah, kata dia, harus melakukan langkah antisipasi sebelum persoalan tersebut berkembang menjadi PHK dalam jumlah besar.

"Kita tidak boleh menunggu sampai pintu pabrik tertutup dan ribuan orang kehilangan pekerjaan baru bertindak. Deteksi dini adalah langkah paling bijak dan paling manusiawi. Itulah yang kami lakukan hari ini," ujar Said dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/8/2026).

Said mengatakan pihaknya akan membawa aspirasi para pekerja kepada kementerian dan lembaga terkait. Ia juga berjanji mendorong pemerintah untuk mempelajari serta mengevaluasi berbagai kebijakan yang dinilai berpotensi memberikan tekanan terhadap keberlangsungan operasional industri tekstil.

Menurutnya, kebijakan pemerintah di bidang ekonomi, fiskal, dan industri perlu dirancang dengan mempertimbangkan keberlangsungan industri sekaligus perlindungan terhadap tenaga kerja. Hal tersebut dinilai penting agar kebijakan yang diterapkan tidak justru memperburuk kondisi industri padat karya dan meningkatkan risiko kehilangan pekerjaan.

Kunjungan ke APF juga menjadi bagian dari upaya deteksi dini pemerintah terhadap potensi persoalan ketenagakerjaan di sektor industri. Said menilai keberlangsungan pabrik perlu dijaga karena industri tekstil memiliki peran penting dalam penyerapan tenaga kerja.

Selain membahas kondisi ketenagakerjaan, Said berdiskusi dengan manajemen APF mengenai rencana pengembangan industri tekstil terintegrasi di Jawa Tengah dan Jawa Barat. Dalam rencana tersebut, APF akan ditempatkan sebagai salah satu bagian penting dari ekosistem tekstil nasional yang akan direvitalisasi secara bersama-sama.

Pengembangan industri tekstil terintegrasi tersebut ditargetkan mampu menciptakan ratusan ribu lapangan kerja baru. Pada tahap pertama hingga 2030, program tersebut ditargetkan menyerap sekitar 500.000 tenaga kerja baru yang tersebar di industri polyester, tekstil, garmen, serta berbagai sektor pendukungnya.

Pemerintah berharap revitalisasi ekosistem industri tekstil tidak hanya menjaga keberlangsungan perusahaan dan mencegah terjadinya PHK, tetapi juga membuka peluang investasi serta menciptakan lapangan pekerjaan baru. Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari strategi memperkuat kembali industri tekstil nasional di tengah berbagai tekanan yang dihadapi sektor tersebut.