Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) Jawa Barat tengah menghadapi sejumlah tekanan, mulai dari persaingan dengan negara seperti Vietnam dan Bangladesh, kenaikan biaya produksi, hingga perlambatan pertumbuhan bisnis printing. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha semakin selektif dalam membaca peluang pasar.

Meski demikian, perlambatan industri belum membuat Bandung kehilangan daya tarik sebagai pasar teknologi produksi apparel. Permintaan terhadap mesin masih tetap ada, terutama dari pelaku usaha yang membutuhkan fleksibilitas produksi untuk memenuhi pesanan custom, kebutuhan komunitas, hingga tren print on demand.

Gambaran tersebut terlihat dalam penyelenggaraan Indonesia Apparel Production Expo (IAPE) 2026 di Bandung Convention Centre pada 2–5 September 2026. Pameran yang memasuki penyelenggaraan ke-11 tersebut menghadirkan sekitar 20 perusahaan dengan lebih dari 40 brand yang menawarkan berbagai teknologi produksi apparel.

Ketua KOPI Grafika, Usman Batubara, mengatakan pertumbuhan bisnis printing saat ini memang belum berada pada level yang tinggi. Berdasarkan pengamatannya, pertumbuhan kebutuhan printing berada di kisaran 3–4 persen.

“Peningkatannya itu ya memang tidak dalam kondisi baik-baik saja, tapi pertumbuhan itu memang melambat. Paling mungkin ada sekitar 3–4 persen aja pertambahan untuk printing, untuk kebutuhan printing,” kata Usman.

Meski pertumbuhannya melambat, kebutuhan terhadap teknologi produksi tetap muncul. Pasar mesin tidak hanya berasal dari perusahaan tekstil berskala besar, tetapi juga pelaku usaha menengah dan kecil yang membutuhkan teknologi dengan kemampuan produksi lebih fleksibel.

Project Manager Moremedia Indonesia, Bryan W. Arsaha, mengatakan Bandung masih memiliki permintaan yang cukup tinggi terhadap teknologi apparel. Bahkan, menurutnya, sejumlah peserta pameran telah mengamankan keikutsertaan untuk penyelenggaraan berikutnya.

“Kalau demand-nya untuk yang di Bandung ini cukup tinggi, jadi biasanya setelah pameran ini langsung pada booking untuk pameran,” ujar Bryan.

Menurut Bryan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa perlambatan industri tidak serta-merta menghentikan kebutuhan terhadap mesin produksi. Pelaku usaha justru tetap membutuhkan teknologi agar dapat menyesuaikan diri dengan perubahan karakter pasar.

Salah satu perubahan yang semakin terlihat adalah pergeseran pola produksi pakaian. Pelaku usaha tidak lagi hanya mengandalkan pesanan dalam jumlah besar, tetapi mulai bergerak ke produksi yang lebih spesifik sesuai kebutuhan konsumen.

Bryan mengatakan permintaan terhadap print on demand dan custom printing cukup kuat, khususnya pada segmen usaha menengah dan kecil. Tren tersebut salah satunya didorong oleh meningkatnya aktivitas komunitas dan olahraga yang membutuhkan pakaian dengan desain khusus.

“Kalau yang di skala menengah dan kecil, permintaannya adalah permintaan berbasis print on demand, custom printing. Itu yang sekarang baru tren, yang kalau di dunia fashion itu fast fashion,” katanya.

Jersey menjadi salah satu produk yang mencerminkan perubahan tersebut. Berbagai kegiatan lari hingga komunitas pengendara kini kerap memiliki pakaian khusus yang diproduksi untuk kegiatan atau kelompok tertentu.

“Jersey kadang-kadang cuma dipakai pas running terus udah. Nah, itu yang sekarang baru tinggi sekali demand-nya. Setiap event running kostum jersey-nya baru, tiap event komunitas riders punya kostumnya masing-masing. Nah, itu demand-nya sangat tinggi,” ujar Bryan.

Perubahan pola permintaan tersebut turut mendorong kebutuhan terhadap teknologi produksi yang lebih fleksibel. Dalam IAPE 2026, teknologi Direct-to-Garment (DTG) kembali mendapat perhatian. Selain itu, teknologi direct-to-textile memungkinkan proses pencetakan dilakukan langsung pada lembaran kain.

Teknologi tersebut memberikan peluang bagi pelaku usaha untuk mengerjakan pesanan dalam jumlah lebih kecil dengan waktu produksi yang lebih fleksibel. Hal ini menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya permintaan terhadap pakaian custom dan produk yang mengikuti tren.

Namun, peluang pasar mesin apparel di Indonesia masih menghadapi persoalan struktural. Sebagian besar teknologi mesin yang digunakan industri apparel nasional masih berasal dari luar negeri.

Bryan mengatakan Indonesia belum memiliki kemampuan untuk memproduksi mesin apparel secara masif sehingga mampu memenuhi kebutuhan industri dalam negeri. Kondisi tersebut membuat perubahan nilai tukar dan kebijakan impor dapat berdampak langsung terhadap harga mesin serta keputusan investasi pelaku usaha.

“Kalau mesin-mesin itu sebagian besar masih impor. Kita belum punya kemampuan untuk memproduksi mesin-mesin itu secara masif,” ujar Bryan.

Menurutnya, kondisi pasar mesin apparel tahun ini juga berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Pembatasan impor dan perubahan nilai tukar membuat harga mesin meningkat sehingga peluang bisnis tetap ada, tetapi tidak sebesar periode sebelumnya.

Situasi tersebut menjadi tantangan bagi industri apparel nasional. Di satu sisi, pelaku usaha membutuhkan investasi teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan menghadapi persaingan global. Namun di sisi lain, teknologi tersebut masih banyak didatangkan dari luar negeri sehingga biaya investasi sangat dipengaruhi kondisi ekonomi dan kebijakan perdagangan.

Tekanan persaingan juga semakin terasa bagi industri TPT Jawa Barat yang memiliki banyak perusahaan berorientasi ekspor. Pelaku industri Indonesia harus berhadapan dengan negara seperti Vietnam dan Bangladesh yang dinilai memiliki biaya produksi lebih kompetitif.

“Cuman memang tantangannya beberapa negara itu memberikan harga yang kompetitif untuk produksi, seperti kita ketahui bersama Vietnam, Bangladesh,” katanya.

Karena itu, Bryan menilai tantangan industri tekstil tidak hanya berkaitan dengan peningkatan kapasitas produksi. Pelaku usaha juga perlu mencari strategi agar biaya produksi dapat ditekan sekaligus menjaga daya saing produk di pasar.

“Tantangannya bagaimana untuk produksi cost-nya bisa lebih rendah dan produk-produknya supaya lebih bisa diterima, kalau dari segi industri tekstilnya,” ujarnya.

Dengan berbagai tantangan tersebut, Bandung masih memiliki ruang sebagai salah satu pasar teknologi mesin apparel di Indonesia. Daya tarik tersebut bukan semata-mata karena industri sedang mengalami pertumbuhan tinggi, tetapi karena pelaku usaha tetap membutuhkan teknologi untuk beradaptasi dengan perubahan pola konsumsi, meningkatnya produksi custom, serta persaingan biaya yang semakin ketat.