Industri tekstil nasional masih beroperasi di bawah kapasitas normal di tengah permintaan yang belum sepenuhnya pulih. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mencatat rata-rata utilisasi produksi industri tekstil saat ini baru mencapai sekitar 60%-70%.
Ketua Umum API Jemmy Kartiwa mengatakan kondisi tersebut sejalan dengan pelemahan aktivitas manufaktur pada Agustus 2026. Meski mulai menunjukkan perbaikan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, pemulihan permintaan industri tekstil masih tergolong rapuh.
“Rata-rata 60%-70%, masih di bawah kondisi normal,” ujar Jemmy kepada Kontan, Rabu (2/9/2026).
Menurut Jemmy, tingkat utilisasi produksi berbeda-beda antarperusahaan maupun subsektor. Perusahaan yang memiliki pesanan dari pasar ekspor dan domestik cenderung mampu beroperasi dengan tingkat utilisasi lebih tinggi.
Sebaliknya, perusahaan yang lebih bergantung pada pasar domestik masih menghadapi tekanan yang lebih besar. Kondisi tersebut terjadi di berbagai rantai produksi, mulai dari pemintalan benang, pertenunan, hingga industri pakaian jadi.
Dengan demikian, angka utilisasi 60%-70% tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi seluruh pelaku industri tekstil. Tingkat produksi sangat bergantung pada portofolio pasar dan pesanan yang dimiliki masing-masing perusahaan.
Tekanan terutama berasal dari permintaan domestik yang masih terbatas. Jemmy mengatakan buyer saat ini cenderung melakukan pemesanan dalam volume lebih kecil dengan periode booking yang lebih pendek.
Perubahan pola pemesanan tersebut membuat perusahaan harus lebih berhati-hati dalam menentukan volume produksi. Pelaku industri memilih menyesuaikan produksi dengan pesanan yang masuk untuk menghindari penumpukan persediaan.
“Sedikit ada perbaikan dibanding bulan-bulan sebelumnya, tapi ini fragile recovery, belum pemulihan yang kuat,” kata Jemmy.
Di tengah kondisi tersebut, perusahaan tekstil juga berupaya mempertahankan tenaga kerja. Jemmy mengatakan pengurangan tenaga kerja menjadi opsi terakhir yang ditempuh perusahaan.
Untuk sementara, penyesuaian kapasitas produksi lebih banyak dilakukan melalui pengaturan shift dan pengurangan jam kerja yang mengikuti perkembangan pesanan. Strategi tersebut dilakukan agar perusahaan tetap memiliki tenaga kerja inti ketika permintaan kembali meningkat.
Menurutnya, mempertahankan tenaga kerja inti juga menjadi pertimbangan karena proses perekrutan dan pelatihan pekerja baru membutuhkan waktu serta biaya. Dengan mempertahankan tenaga kerja yang ada, perusahaan dapat lebih cepat meningkatkan produksi ketika kondisi pasar mulai pulih.
Selain tekanan dari pasar domestik, industri tekstil juga masih menghadapi ketidakpastian dari kondisi global. Konflik AS-Iran berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap biaya energi dan pengiriman, termasuk bahan baku petrokimia yang banyak digunakan dalam produksi serat sintetis seperti polyester.
Kondisi tersebut berpotensi menambah beban biaya produksi ketika utilisasi industri masih berada di bawah kapasitas normal.
Karena itu, Jemmy menilai pemulihan daya beli masyarakat menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong peningkatan utilisasi industri tekstil. Penguatan daya beli juga perlu diikuti dengan upaya mendorong konsumsi produk dalam negeri.
Dengan permintaan domestik yang lebih kuat, perusahaan tekstil diharapkan dapat meningkatkan volume produksi secara bertahap sekaligus memperbaiki utilisasi pabrik. Namun, dengan kondisi saat ini, pemulihan industri masih membutuhkan waktu dan belum dapat dikatakan berlangsung secara solid.