Masuknya investasi sebesar Rp 10,2 triliun ke sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) pada 2024 menjadi angin segar yang patut disyukuri, namun belum mampu mengubah kondisi lesu industri ini secara menyeluruh. Di balik angka investasi yang meningkat drastis dibandingkan tahun sebelumnya, realitas di lapangan menunjukkan industri masih dibayangi ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) dan penutupan pabrik.

Indeks Manufaktur Indonesia kembali menunjukkan sinyal yang belum menggembirakan. Memasuki bulan Juli 2025, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia tercatat berada di level 49,1. Meski mengalami sedikit kenaikan dari posisi Juni yang berada di angka 46,9, indeks ini masih berada di bawah ambang batas netral 50, yang menandakan sektor manufaktur masih dalam fase kontraksi.

Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) di Indonesia sedang menghadapi tekanan berat. Tidak hanya berdampak pada pekerja pabrik, badai pemutusan hubungan kerja (PHK) kini juga menyasar kalangan profesional manajemen. Banyak dari mereka memilih hengkang ke luar negeri, mencari peluang baru demi menyelamatkan karier mereka di tengah kemerosotan industri dalam negeri.