Perang dagang berkepanjangan antara Amerika Serikat (AS) dan China telah membawa imbas yang signifikan bagi pasar Indonesia. Salah satu sektor yang paling terdampak adalah industri tekstil nasional, yang kini semakin tertekan oleh lonjakan produk impor asal China.
Industri alas kaki Indonesia kembali menunjukkan prospek cerah dengan rencana investasi senilai Rp 8 triliun dari 12 perusahaan asing sepanjang Januari hingga Mei 2025. Investasi ini menjadi sinyal positif di tengah tekanan yang melanda industri, baik dari sisi ekspor maupun konsumsi domestik.
Rencana pemerintah untuk menerapkan bea masuk anti-dumping (BMAD) terhadap produk benang sintetis seperti polyester oriented yarn (POY) dan draw textured yarn (DTY) dinilai belum tentu efektif dalam memulihkan industri tekstil nasional secara menyeluruh. Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyampaikan kekhawatirannya bahwa kebijakan ini justru bisa menjadi beban tambahan bagi sektor hilir yang padat karya dan menopang ekspor serta penyerapan tenaga kerja.
Lonjakan impor pakaian jadi dari Tiongkok ke Indonesia pada tahun 2024 mencapai angka signifikan sebesar 42,7 persen. Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan ketahanan industri tekstil nasional. Ketua Ikatan Ahli Tekstil Indonesia (Ikatsi), Muhammad Sobirin, menilai bahwa Indonesia perlu segera memperkuat daya saing produk dalam negeri dan membenahi berbagai aspek di sektor tekstil secara menyeluruh.
Industri manufaktur menjadi penopang utama perekonomian Indonesia dengan kontribusi sebesar 18,98 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada tahun 2024. Di antara berbagai sektor yang tergabung dalam industri manufaktur, sektor tekstil memiliki peran yang sangat penting, tidak hanya karena kapasitas produksinya, tetapi juga karena kemampuannya dalam menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, terutama dari kelompok berpendidikan rendah hingga menengah.
Page 77 of 130