Industri tekstil dalam negeri tengah menghadapi tekanan berat yang berpotensi menimbulkan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Sebanyak tiga juta pekerja di sektor padat karya ini terancam kehilangan mata pencaharian akibat hasil produksi pabrik yang tidak terserap pasar. Penyebab utamanya adalah membanjirnya produk tekstil impor ilegal yang menguasai pasar domestik dengan harga yang jauh lebih murah.
Yuyue Home Textile Co., Ltd., perusahaan asal Binzhou, Provinsi Shandong, China, telah menjelma dari pelopor tekstil rumah tangga menjadi pemain utama dalam industri layanan dan produk kesehatan. Didirikan pada 2004, Yuyue tidak hanya dikenal karena produk tekstil rumah tangganya yang inovatif dan ramah lingkungan, tetapi juga karena pengembangan teknologi kesehatan yang menjadi fokus baru perusahaan.
Ratusan buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN) turun ke jalan dalam aksi demonstrasi yang berlangsung di kawasan Patung Kuda, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, pada Minggu pagi, 1 Juni 2025. Aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan para buruh terhadap maraknya praktik impor ilegal yang dinilai menjadi salah satu penyebab utama gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor industri.
Sekitar tiga juta pekerja di industri tekstil nasional kini berada di ambang pemutusan hubungan kerja (PHK). Ancaman ini muncul akibat menumpuknya hasil produksi yang tak terserap pasar domestik, ditambah penurunan permintaan ekspor. Industri padat karya ini pun menghadapi masa-masa sulit di tengah serbuan barang tekstil impor ilegal yang membanjiri pasar dalam negeri.
Dalam persaingan industri fesyen yang semakin dinamis, kehadiran brand lokal dengan identitas kuat menjadi kunci untuk tetap relevan dan diminati. Intresse adalah salah satu contoh sukses brand modest wear yang mampu mencuri perhatian lewat kombinasi harmonis antara warisan budaya Nusantara dan pendekatan modern berbasis teknologi tekstil.
Page 76 of 123