Sentra tekstil di Majalaya kembali menunjukkan geliatnya di tengah tekanan industri melalui penyelenggaraan Festival Sarung Majalaya 2026 yang berlangsung selama empat hari pada akhir Februari 2026. Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai pameran, diskusi, hingga pertunjukan budaya yang melibatkan ratusan peserta dari berbagai kalangan.

Perwakilan panitia, Ahmad Fauzan, mengatakan festival ini menjadi ruang pertemuan bagi berbagai pihak mulai dari pemerintah, komunitas, pelaku usaha, akademisi, tokoh agama hingga masyarakat setempat. Melalui kegiatan tersebut, penyelenggara berharap identitas Majalaya sebagai kawasan tekstil bersejarah dapat kembali dihidupkan sekaligus mendorong penguatan ekonomi lokal berbasis budaya.

Menurut Fauzan, festival ini juga menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara pelaku industri tekstil dengan masyarakat lokal. Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), koperasi, serta paguyuban pengrajin dari berbagai daerah ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut, termasuk kelompok pengrajin dari Subang yang tergabung dalam forum Teralis Herbalis.

Selain menampilkan produk tekstil, festival juga menghadirkan ragam kuliner khas daerah. Berbagai UMKM lokal menyajikan hidangan khas Kabupaten Bandung seperti pepes ikan dan berondong sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan budaya dan kuliner daerah kepada para pengunjung.

Beragam kegiatan budaya turut meramaikan festival, termasuk pertunjukan seni Sunda yang digelar di Alun-alun Majalaya. Peserta juga diajak mengunjungi Gedong Wiranatakusumah yang merupakan bangunan bersejarah di kawasan tersebut. Selain itu, digelar pula diskusi bertema city branding Majalaya sebagai kota tekstil serta strategi pemasaran produk tekstil lokal agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

Selama empat hari pelaksanaan festival, nilai transaksi penjualan Sarung Majalaya tercatat mencapai sekitar Rp20 juta. Meski nilainya belum besar, kegiatan ini dinilai menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali aktivitas ekonomi berbasis tekstil di kawasan tersebut.

Festival ini juga menjadi panggung bagi kreativitas generasi muda. Salah satu yang menarik perhatian adalah koleksi busana berbahan sarung Majalaya yang ditampilkan oleh desainer muda difabel, Nadya Amalia Yahya. Karyanya menunjukkan bahwa sarung tradisional dapat diolah menjadi produk fesyen yang lebih modern dan memiliki nilai tambah.

Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi dan Pendidikan Khusus di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia serta Balai Pelestari Kebudayaan Wilayah Jawa Barat. Selain itu, sejumlah instansi yang bergerak di sektor tekstil di Majalaya dan para pengusaha lokal juga ikut berpartisipasi dalam festival tersebut.

Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap Festival Sarung Majalaya tidak hanya menjadi ajang perayaan budaya, tetapi juga menjadi ruang kebanggaan bagi kreativitas lokal sekali