Industri tekstil global dalam beberapa tahun terakhir menghadapi berbagai tekanan, mulai dari perubahan perilaku konsumen, meningkatnya biaya produksi, hingga persaingan ketat dari merek fast fashion berbasis digital asal Tiongkok. Namun di tengah kondisi tersebut, salah satu merek fesyen global, Zara, justru mampu mempertahankan kinerja bisnis yang kuat dan terus mencetak pertumbuhan.

Perusahaan induk Zara, Inditex, mencatatkan laba tertinggi dalam sejarahnya pada tahun 2025. Untuk tahun keuangan yang berakhir pada 31 Januari 2025, Inditex membukukan laba bersih sebesar 6,22 miliar euro, meningkat sekitar 6 persen dibandingkan laba tahun sebelumnya yang mencapai 5,88 miliar euro. Pencapaian ini didukung oleh kinerja penjualan yang solid baik melalui toko fisik maupun platform daring, dengan total penjualan mencapai 39,86 miliar euro, naik 3,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 38,63 miliar euro.

Kinerja tersebut cukup kontras dengan kondisi industri pakaian siap pakai di beberapa negara Eropa, terutama di France, di mana sejumlah merek fesyen mengalami penurunan bahkan gulung tikar. Beberapa perusahaan seperti Camaïeu, Kaporal, Jennyfer, dan Naf Naf terpaksa menghentikan operasional atau melakukan restrukturisasi akibat tekanan dari persaingan e-commerce, fast fashion, menurunnya daya beli konsumen, serta tingginya biaya operasional toko fisik.

Salah satu faktor utama yang membuat Zara tetap bertahan adalah sistem produksi yang sangat cepat dan fleksibel. Berbeda dengan banyak merek fesyen yang merencanakan koleksi beberapa bulan sebelum musim penjualan, Zara menggunakan sistem produksi yang dikenal sebagai “quick response”. Melalui sistem ini, perusahaan mampu merancang, memproduksi, dan mendistribusikan produk baru ke toko hanya dalam waktu beberapa minggu.

Model produksi ini memungkinkan Zara untuk merespons tren pasar secara cepat dan mengurangi risiko kelebihan stok. Sebagian besar proses produksinya juga ditempatkan di wilayah yang relatif dekat dengan Eropa, sehingga memudahkan pengawasan produksi serta mempercepat distribusi barang ke berbagai pasar utama.

Untuk memperkuat sistem tersebut, Inditex juga terus meningkatkan infrastruktur logistiknya. Pada Oktober lalu, perusahaan membuka fasilitas logistik baru seluas lebih dari 200.000 meter persegi di dekat kota La Coruña, Spain. Pusat logistik ini dirancang untuk mempercepat proses distribusi dan memungkinkan perusahaan menyesuaikan produksi secara cepat berdasarkan data penjualan yang masuk.

Strategi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Zara mampu mempertahankan profitabilitas yang tinggi meskipun menghadapi persaingan dari pemain fast fashion berbasis digital seperti Shein. Zara memilih untuk memposisikan produknya di segmen harga menengah dengan fokus pada kualitas desain dan bahan, berbeda dengan Shein yang menargetkan pasar dengan produk berharga sangat murah.

Pendekatan ini terbukti efektif dalam menjaga margin keuntungan perusahaan. Pada tahun 2025, Inditex mencatat margin laba bersih sekitar 15,6 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan margin laba Shein yang diperkirakan hanya sekitar 3,3 persen. Meskipun demikian, pertumbuhan Shein tetap sangat pesat. Perusahaan tersebut diperkirakan membukukan penjualan sekitar 60 miliar dolar AS dengan laba bersih sekitar 2 miliar dolar AS.

Dalam hal pangsa pasar global di sektor mode online, Shein saat ini bahkan memimpin dengan pangsa sekitar 1,53 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan Inditex yang memiliki pangsa sekitar 1,24 persen. Persaingan yang semakin ketat ini menunjukkan bahwa industri fesyen global terus mengalami perubahan yang cepat, terutama dengan berkembangnya model bisnis berbasis e-commerce dan produksi massal berbiaya rendah.

Menghadapi dinamika tersebut serta ketidakpastian geopolitik di berbagai pasar utama, termasuk di United States, Inditex telah menyiapkan langkah strategis untuk memperkuat posisinya. Perusahaan berencana menginvestasikan sekitar 2,3 miliar euro pada tahun 2026 untuk memperluas kapasitas logistik, meningkatkan teknologi operasional, serta memperkuat jaringan ritel globalnya.

Melalui kombinasi antara sistem produksi cepat, kontrol rantai pasok yang kuat, serta strategi positioning yang jelas di pasar, Zara menunjukkan bahwa inovasi dalam manajemen produksi dan distribusi dapat menjadi kunci keberhasilan di tengah krisis industri tekstil dan persaingan global yang semakin ketat.